Jakarta — Institute for Essential Services Reform (IESR) mendesak pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem transmisi listrik Indonesia setelah runtuhnya 12 menara transmisi di Sumatera Utara memicu pemadaman bergilir di Medan dan daerah sekitarnya, hanya beberapa minggu setelah pemadaman listrik besar-besaran melanda sebagian besar wilayah Sumatera.
Gangguan terbaru ini kembali memicu kekhawatiran terhadap ketahanan infrastruktur listrik Indonesia, seiring dengan semakin seringnya terjadinya peristiwa cuaca ekstrem yang terkait dengan perubahan iklim. Kerusakan tersebut melibatkan baik saluran transmisi tegangan ekstra tinggi (EHV) Galang–Simangkuk bertegangan 275 kilovolt maupun koridor transmisi Tebing Tinggi–Sei Rotan bertegangan 150 kV. Tiga menara pada jalur Galang–Simangkuk dilaporkan roboh, sementara dua menara lainnya mengalami deformasi struktural. Enam menara tambahan di jalur Tebing Tinggi–Sei Rotan juga roboh, sementara satu menara lainnya bengkok.
Runtuhnya menara transmisi terbaru ini terjadi hanya beberapa minggu setelah pemadaman listrik besar-besaran yang membuat sebagian besar wilayah Sumatra kehilangan aliran listrik pada akhir bulan Mei. Saat itu, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot mengatakan bahwa pemerintah sedang melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap pemadaman tersebut dan mempersiapkan langkah-langkah mitigasi untuk mencegah terjadinya pemadaman listrik di masa mendatang. Para analis industri telah memperingatkan bahwa pemulihan dan penguatan jaringan listrik akan membutuhkan investasi yang signifikan dalam infrastruktur transmisi serta langkah-langkah ketahanan terhadap perubahan iklim.

Namun, IESR berpendapat bahwa berulangnya gangguan transmisi besar-besaran mengindikasikan adanya masalah mendasar terkait ketahanan infrastruktur kelistrikan Indonesia dalam menghadapi kondisi cuaca yang semakin ekstrem. Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa, mengatakan bahwa cuaca buruk saja tidak boleh dianggap sebagai penjelasan yang memadai atas kerusakan yang begitu parah.
“Menara transmisi dirancang untuk menahan hujan lebat, sambaran petir, dan angin kencang yang sering terjadi di Indonesia. Pertanyaan utamanya adalah mengapa infrastruktur yang relatif baru itu mengalami kegagalan beruntun dalam kondisi seperti itu,” kata Fabby.
Saluran transmisi Galang–Simangkuk merupakan bagian dari proyek strategis Tol Listrik Sumatra dan baru beroperasi sejak tahun 2019. Menurut IESR, kegagalan aset strategis yang relatif baru ini mengindikasikan adanya kemungkinan kelemahan dalam standar desain, kualitas konstruksi, praktik pemeliharaan, atau penilaian risiko iklim.
Lembaga think tank tersebut mendesak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan untuk membentuk tim investigasi multidisiplin yang independen guna mengidentifikasi akar permasalahan dari kegagalan tersebut. Penyelidikan tersebut harus menelaah apakah menara-menara tersebut terpapar kondisi cuaca yang melampaui batas desainnya, apakah kelemahan struktural atau fondasi turut menyebabkan runtuhnya menara, serta mengapa kerusakan tersebut meluas ke beberapa menara.
IESR juga mendesak pihak berwenang untuk melakukan audit infrastruktur transmisi secara nasional dan menyusun Strategi Ketahanan Jaringan Listrik Nasional yang memasukkan ketahanan iklim sebagai indikator kinerja utama, di samping indikator keandalan konvensional seperti SAIDI dan SAIFI.
Organisasi tersebut memperingatkan bahwa penguatan jaringan transmisi semakin mendesak seiring dengan upaya Indonesia untuk mengintegrasikan puluhan gigawatt energi terbarukan ke dalam jaringan listrik nasional selama dekade mendatang.
“Dalam sistem ketenagalistrikan modern, petir, hujan lebat, dan angin kencang bukanlah kondisi luar biasa,” kata Fabby, “ada sejumlah standar-standar internasional yang diterapkan dalam infrastruktur transmisi.”
“Investigasi mendalam tidak boleh hanya menyentuh permukaan, tetapi harus mengurai akar persoalan teknis, kelembagaan, hingga komitmen investasi yang selama ini membiarkan sistem kelistrikan kita berada dalam kondisi rentan,” tegasnya. (nsh)
Foto banner: Gambar dibuat menggunakan DALL·E dari OpenAI melalui ChatGPT (2024)


