Bagaimana peternakan maggot menjadi peluang pengelolaan limbah organik Jakarta

oleh: Nabiha Shahab

Masalah sampah di Jakarta sering kali dipandang sebagai masalah pembuangan: ke mana kota ini bisa membuang tumpukan sampah yang dihasilkannya setiap hari? Namun, semakin banyak perusahaan yang menantang logika tersebut dengan mengajukan pertanyaan yang berbeda: bagaimana jika limbah tersebut sebenarnya tidak perlu menjadi sampah sedari awal?

Axel Tilaar, CEO Terra Maggot, menunjukkan salah satu solusinya: biarkan masalah ini diselesaikan oleh serangga. Terra Maggot menggunakan larva lalat tentara hitam untuk mengolah limbah makanan yang dikumpulkan dari hotel, restoran, dan usaha lainnya. Larva tersebut berkembang melalui beberapa tahap selama kurang lebih satu bulan, sebelum berubah menjadi lalat dan memulai kembali siklusnya. Larva itu sendiri kemudian dapat dikeringkan atau diolah menjadi pakan ternak, sementara bahan lainnya dapat diubah menjadi pupuk.

“Karena semua ini berasal dari sisa makanan yang dikumpulkan dari hotel dan restoran, keuntungannya adalah kandungan proteinnya tinggi,” kata Tilaar kepada tanahair.net di sela-sela acara Indonesia Net-Zero Summit 2026, di Jakarta, pada Sabtu, 1 Agustus.


Axel Tilaar, CEO Terra Maggot, menjelaskan bagaimana budidaya maggot dapat mengubah limbah organik menjadi peluang untuk pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan.

Limbah protein sisa memberikan insentif ekonomi untuk mengelola sampah. Larva-larva tersebut dapat diolah menjadi pakan unggas, babi, dan sapi, atau dibuat menjadi pelet untuk ikan seperti ikan lele. Terra Maggot menyatakan bahwa operasinya saat ini mampu mengolah sekitar 100 kilogram per hari di salah satu lokasi mitranya.

Namun, bagi Jakarta, bagian terpenting dari model ini mungkin bukanlah maggot itu sendiri. Melainkan prinsip di baliknya: sampah organik dapat menjadi bahan baku yang produktif, bukan sekadar masalah pembuangan.

Tantangannya adalah bahwa hal ini hanya bisa berjalan secara efisien jika sampah telah dipilah dengan benar.

“Sisa makanan belum tentu bersih,” kata Axel. “Kita harus memilahnya terlebih dahulu … agar komposisinya bagus dan kandungan proteinnya tinggi.”

Persyaratan tersebut mengungkap salah satu kelemahan mendasar dalam sistem pengelolaan sampah yang ada di Jakarta. Begitu sisa makanan, plastik, kemasan, dan bahan-bahan lain tercampur, upaya pemulihan nilainya menjadi jauh lebih sulit. Sebuah peternakan maggot tidak bisa begitu saja dianggap sebagai tempat pembuangan akhir bagi segala sesuatu yang keluar dari tempat sampah rumah tangga atau komersial.

Oleh karena itu, solusinya bukanlah sekadar membangun lebih banyak peternakan maggot. Jakarta perlu membangun sistem yang mendukungnya.

Hotel, restoran, pasar, food court, dan penghasil limbah organik berskala besar lainnya dapat diwajibkan atau diberi insentif yang kuat untuk memisahkan limbah makanan sejak dari sumbernya. Limbah tersebut kemudian dapat dikumpulkan melalui sistem khusus dan disalurkan ke pengolah seperti Terra Maggot. Sebagai imbalannya, pelaku usaha akan mendapatkan layanan pengelolaan limbah yang lebih dapat diprediksi, sementara pihak pengolah memperoleh bahan baku yang andal.

Peluang ini tidak hanya terbatas pada pengurangan limbah. Terra Maggot sedang mengembangkan berbagai model ekspansi, termasuk mengoperasikan fasilitas pengolahan limbah secara menyeluruh, berinvestasi dalam pengolahan limbah, serta “blok larva” yang memungkinkan pihak lain membudidayakan larva tersebut sendiri. Perusahaan ini juga sedang mempertimbangkan lokasi seluas antara 1.000 hingga 3.000 meter persegi.

Namun, Jakarta harus berhati-hati agar tidak menampilkan budidaya maggot sebagai solusi ajaib. Budidaya ini tidak dapat menggantikan pengurangan sampah, daur ulang, atau sistem pengumpulan sampah yang lebih baik. Efektivitasnya bergantung pada sistem hulu yang disiplin, yang menyalurkan bahan yang tepat dalam kondisi yang tepat.

Tilaar mengatakan bahwa limbah organik yang ideal bergantung pada komposisinya, termasuk sayuran dan karbohidrat seperti nasi dan roti, serta daging.

Di sinilah kebijakan publik dapat membuat perbedaan.

Daripada membiarkan usaha-usaha semacam itu berkembang di pinggiran sektor limbah, Jakarta dapat secara aktif mengintegrasikannya ke dalam strategi pengelolaan limbahnya. Pemerintah kota dapat mendukung pemilahan sampah di sumber, menyediakan lokasi yang sesuai, memfasilitasi kemitraan antara produsen limbah dan pengolah limbah, serta menetapkan standar untuk memastikan bahwa pakan dan pupuk berbasis serangga yang telah diolah memenuhi persyaratan keamanan.

Foto banner: Foto udara tempat pembuangan akhir di Tangerang Selatan, Banten, Indonesia. 19 Oktober 2019. Tom Fisk/Pexels.com

 

Like this article? share it

More Post

Receive the latest news

Subscribe To Our Weekly Newsletter

Get notified about new articles