Jakarta — Indonesia melaporkan penurunan jumlah titik api di empat dari enam provinsi prioritasnya dalam upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan, meskipun pada hari Selasa tercatat adanya sedikit peningkatan jumlah titik api dengan tingkat keyakinan tinggi di seluruh negeri, demikian disampaikan Kementerian Kehutanan pada Rabu, 9 September.
Data satelit dari NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 menunjukkan 397 titik api dengan tingkat keyakinan tinggi di seluruh negeri, naik dari 386 pada hari sebelumnya.
Sumatera Selatan tetap menjadi provinsi dengan jumlah tertinggi di antara enam wilayah prioritas, dengan 76 titik panas, turun dari 88. Kalimantan Tengah mencatat 63 titik panas, naik dari 46, sementara Kalimantan Barat turun tajam menjadi 12 dari 31. Riau mencatat delapan titik panas, Kalimantan Selatan enam, dan Jambi tiga.
Kementerian tersebut menyatakan bahwa penurunan jumlah titik panas di Kalimantan Barat bertepatan dengan turunnya hujan yang didukung oleh operasi modifikasi cuaca (OMC) pada Selasa, 8 September. Hujan juga turun di beberapa wilayah Kalimantan Tengah, meskipun jumlah titik panas di sana terus meningkat.
Pihak berwenang mengingatkan bahwa titik panas yang terdeteksi oleh satelit menandakan adanya anomali suhu permukaan dan belum tentu menunjukkan adanya kebakaran secara individual. Pemeriksaan di lapangan tetap diperlukan untuk memverifikasi aktivitas kebakaran.
Pemerintah terus mengerahkan tim darat bersama 53 pesawat di enam provinsi prioritas. Sembilan belas pesawat ditugaskan untuk patroli udara dan dukungan OMC, sedangkan 34 pesawat lainnya dikerahkan untuk penyiraman dari udara.
Meskipun jumlah titik api di beberapa wilayah mengalami penurunan, asap tetap menjadi perhatian. Pada hari Selasa, jarak pandang dilaporkan sekitar 3 km di Palembang, 3 km di Pontianak, 5 km di Palangka Raya, dan 4 km di Pekanbaru, dengan kondisi berasap dilaporkan di bandara-bandara tersebut.
Kementerian tersebut menyatakan bahwa upaya pemadaman, pendinginan, dan pemantauan akan terus dilanjutkan, terutama di lahan gambut di mana kebakaran dapat terus berkobar di bawah permukaan dan kembali menyala setelah tampaknya telah padam.
Kualitas udara berdasarkan PM2.5 juga tetap bervariasi, dengan beberapa wilayah di Sumatra dan Kalimantan mencatat kondisi yang tidak sehat hingga sangat tidak sehat, sementara beberapa wilayah terpencil mencapai tingkat berbahaya. (nsh)
Foto banner: Tim gabungan melakukan pemadaman api yang membakar wilayah Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh pada Senin, 7 September. Sumber foto: BPBD Kabupaten Aceh Besar.


