Jakarta — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia diperkirakan telah menyebabkan sekitar 1.700 kematian akibat polusi udara pada bulan Agustus, sementara polusi dari pembangkit listrik, industri, transportasi, dan sumber-sumber lain di luar kebakaran dikaitkan dengan 2.000 kematian lainnya, menurut analisis terbaru yang dilakukan oleh Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA).
Analisis yang diterbitkan pada 14 September tersebut memperkirakan bahwa polusi udara berkontribusi terhadap sekitar 3.700 kematian di 15 provinsi selama bulan tersebut, yang menyoroti beban kesehatan akibat kebakaran musiman dan polusi yang terus-menerus akibat aktivitas ekonomi.
CREA menyatakan bahwa angka-angka tersebut menunjukkan bahwa asap dari karhutla, yang menjadi sorotan luas selama bulan Agustus, hanyalah sebagian dari masalah polusi udara di Indonesia.
“Asap tebal dan kabut asap lintas batas dari karhutla yang menyita perhatian publik dapat dengan mudah mengaburkan krisis polusi udara mematikan yang dihadapi masyarakat Indonesia hampir sepanjang tahun,” menurut analisis CREA yang dipimpin oleh Katherine Hasan.
Analisis tersebut menunjukkan bahwa penduduk Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan menghadapi risiko kematian akibat polusi udara yang diperkirakan tiga hingga empat kali lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk Jawa.

Sumber: Analisis CREA analysis berdasarkan Tracking Air Pollution (tapdata.org.cn), Tsinghua University; Kementerian Kehutanan; and Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)
Kebakaran juga secara drastis memperburuk kualitas udara di Kalimantan. CREA memperkirakan bahwa konsentrasi rata-rata PM2,5 di wilayah tersebut meningkat enam kali lipat pada bulan Agustus, dari sekitar 20 mikrogram per meter kubik menjadi 120 mikrogram per meter kubik.
Menurut analisis tersebut, sekitar 69% penduduk Kalimantan terpapar udara yang dikategorikan tidak sehat atau lebih buruk selama bulan tersebut.
PM2.5 merujuk pada partikel halus yang dapat menembus jauh ke dalam sistem pernapasan dan dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan.
Polusi di luar wilayah kebakaran
Meskipun Kalimantan mengalami penurunan kualitas udara yang paling tajam selama musim kebakaran, Jawa mencatat perkiraan jumlah kematian akibat polusi tertinggi, yaitu sekitar 1.600 orang pada bulan Agustus.
CREA memperkirakan bahwa sekitar 90% dari kematian tersebut terkait dengan polusi sepanjang tahun yang berasal dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil, industri, transportasi, dan sumber-sumber non-kebakaran lainnya.
Pada puncak episode polusi bulan Agustus, sekitar 41 juta warga Indonesia terpapar udara yang tidak sehat atau bahkan lebih buruk pada tanggal 18 Agustus, menurut CREA. Angka tersebut tetap tinggi, yaitu sekitar 36,4 juta orang, hingga akhir bulan.
Temuan tersebut didasarkan pada analisis CREA terhadap data kualitas udara dan paparan penduduk. Sistem pemantauan kualitas udara CREA di Indonesia menggabungkan data dari stasiun pemantauan pemerintah dengan data aktivitas kebakaran berbasis satelit serta perkiraan paparan PM2.5. CREA menyatakan bahwa perkiraan paparannya telah disesuaikan dengan pembacaan dari stasiun pemantauan di Indonesia.
Analisis tersebut juga muncul di tengah meningkatnya risiko kebakaran yang dihadapi Indonesia selama musim kemarau. CREA mencatat bahwa fenomena El Niño dapat memperparah polusi udara dengan mengurangi curah hujan, sehingga memungkinkan polutan menumpuk, sekaligus meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan gambut.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa untuk mengatasi beban kesehatan akibat polusi udara di Indonesia, diperlukan langkah-langkah yang tidak hanya terbatas pada pencegahan kebakaran, melainkan juga mencakup pengurangan emisi dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil, sektor industri, dan transportasi.
Di sisi lain, sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh kelompok riset ekonomi Indonesia, CELIOS, memperkirakan bahwa biaya ekonomi dan kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan dari Januari hingga Agustus 2026 dapat mencapai 39,29 triliun rupiah hingga 123,1 triliun rupiah.
Temuan CREA merupakan perkiraan, bukan data resmi angka kematian, dan angka-angka tersebut mencakup 15 provinsi yang diidentifikasi sebagai wilayah yang paling terdampak dalam analisisnya. (nsh)
Foto banner: Asap pekat menyelimuti wilayah sekitar Pos Lapangan Siaga Karhutla Pulang Pisau, Kecamatan Jabieren, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Selatan pada Senin, 21 September 2026, sekitar pukul 14.00 WIB. (Sumber: BNPB)


