Indonesia masuki era baru dalam produksi LNG, pembangunan Proyek Masela dimulai

oleh Roffie Kurniawan

Jakarta – Indonesia memasuki babak baru yang penting dalam produksi LNG seiring dimulainya pembangunan Proyek LNG Masela. Setelah hampir tiga puluh tahun sejak cadangan gas alam ditemukan di Ladang Abadi pada tahun 2000, proyek ini secara resmi telah dimulai. Proyek senilai 20,9 miliar dolar AS ini menjanjikan transformasi lanskap industri Indonesia.

Upacara peletakan batu pertama Proyek LNG Masela diselenggarakan pada 16 Juli 2026 di Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku. Presiden Prabowo Subianto, yang menghadiri peluncuran secara virtual dari Istana Negara di Jakarta, menyoroti pentingnya Proyek Strategis Nasional (PSN) bersejarah ini, serta menekankan perlunya proyek tersebut dilanjutkan tanpa penundaan demi memperkuat ketahanan energi nasional.

Proyek ini akan mengolah gas dari Ladang Gas Abadi di Blok Masela, yang terletak sekitar 180 km lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura, pada kedalaman air 400–800 meter. Gas yang diekstraksi dari Ladang Gas Abadi kemudian akan dikirim ke fasilitas produksi darat di Pulau Yamdena.

Proyek LNG Masela dirancang untuk memproduksi 9,5 juta metrik ton per tahun (MTPA) LNG, 150 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD) gas pipa, dan 35.000 barel kondensat setiap hari.

Konsep pengembangan proyek LNG Masela (sumber: Inpex)

Pengembangan proyek LNG Masela mencakup sistem pengeboran dan produksi bawah laut, fasilitas Floating Production Storage and Offloading (FPSO), pipa gas ekspor sepanjang 175 kilometer, serta pabrik LNG darat.

Proyek ini juga berencana menerapkan teknologi Penangkapan dan Penyimpanan Karbon (CCS) dalam produksi LNG guna mendukung pengurangan emisi karbon serta upaya pemerintah dalam mewujudkan transisi energi.

Blok Masela dioperasikan oleh Inpex Corporation dari Jepang, melalui anak perusahaannya, Inpex Masela Ltd, yang memegang 65 persen hak partisipasi. Pemegang saham lainnya adalah PT Pertamina Hulu Energi, anak perusahaan dari perusahaan minyak dan gas milik negara PT Pertamina, dengan 20 persen hak partisipasi, serta Petronas Malaysia dengan 15 persen hak partisipasi.

Kontrak Bagi Hasil (PSC) untuk Wilayah Kerja Masela berlaku mulai tahun 1998 hingga 2055.

Dengan komposisi alokasi yang telah disusun, produksi gas di Blok Masela diperkirakan akan memenuhi kebutuhan beberapa sektor domestik tanpa menghalangi peluang ekspor. Pelaksanaannya tetap bergantung pada kesiapan proyek, penyelesaian fasilitas pengolahan, serta penyerapan gas oleh pengguna domestik potensial.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, bersama dengan Satuan Kerja Khusus Pengawas Migas Hulu (SKK Migas), telah memastikan bahwa alokasi gas dalam negeri telah dimasukkan ke dalam rencana pengembangan lapangan (PoD) guna memenuhi permintaan gas alam yang terus meningkat, terutama di sektor industri, pupuk, dan pembangkit listrik.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahdalia memperkenalkan kebijakan yang memastikan bahwa tidak kurang dari 60 persen produksi gas dari proyek tersebut akan dipenuhi untuk kebutuhan dalam negeri, sehingga ekspor dibatasi maksimal 40 persen.

“Kami akan mengalokasikan minimal 60 persen dari produksi gas Blok Masela untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan maksimal 40 persen untuk ekspor. Sebagian dari produksi tersebut akan digunakan untuk pengolahan hilir, termasuk PT Pupuk Indonesia, yang berencana membangun industri hilir di sini (Tanimbar),” kata Bahlil dalam upacara peletakan batu pertama.

Selain untuk mendukung industri pupuk, sebagian gas dari Blok Masela juga akan dialokasikan kepada perusahaan listrik negara PT PLN, PT Perusahaan Gas Negara (PGN), dan beberapa perusahaan swasta. Pemanfaatan gas ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Peta Ladang Abadi (sumber: Inpex)

Pentingnya Proyek LNG Masela

Peletakan batu pertama Proyek LNG Abadi Masela menandai perubahan bersejarah, yang menempatkan proyek ini sebagai landasan utama bagi ketahanan energi dan kemajuan industri Indonesia. Proyek ini tidak hanya memegang peranan penting bagi lanskap energi negara, tetapi juga menjanjikan manfaat ekonomi dan industri yang signifikan.

Pada intinya, Proyek LNG Masela bertujuan untuk mengatasi tantangan-tantangan krusial yang dihadapi produksi LNG Indonesia. Selama bertahun-tahun, negara ini telah mengalami penurunan produksi yang tajam akibat menipisnya cadangan sumur gas, dengan produksi di Bontang anjlok dari 22 juta metrik ton pada tahun 2010 menjadi hanya 0,8 juta metrik ton yang diproyeksikan untuk tahun 2026.

Proyek LNG Masela muncul sebagai penyeimbang yang sangat penting, yang mencegah potensi krisis energi pada tahun 2030 dan berfungsi sebagai pelindung terhadap penurunan produksi di masa depan.

Dari segi posisi global, Proyek Masela akan mengantarkan Indonesia kembali masuk ke dalam 10 besar eksportir LNG dunia, dengan produksi nasional gabungan mencapai 14 juta metrik ton per tahun (MTPA), naik dari 4,5 juta metrik ton pada tahun ini. Lonjakan ini akan memungkinkan Indonesia memulihkan reputasi dan daya saingnya dalam bersaing dengan negara-negara kuat di kawasan seperti Malaysia.

Untuk memahami konteks inisiatif transformatif ini, bayangkan produksi LNG nasional sebagai sebuah gelas yang saat ini hampir kosong, dengan hanya menyisakan 20 persen dari kapasitasnya. Proyek LNG Masela hadir sebagai kekuatan yang mengisi kembali sekitar 70 persen dari gelas tersebut. Tanpa proyek ini, Indonesia berisiko harus mengimpor LNG antara tahun 2028 dan 2030. Namun, dengan adanya proyek ini, negara ini memastikan surplus gas yang stabil hingga jauh melampaui tahun 2035.

Para pengamat mengatakan bahwa Proyek LNG Masela diperkirakan akan melampaui total produksi fasilitas-fasilitas yang sudah ada seperti Bontang, Donggi, dan Tangguh pada tahun 2026. Proyek ini bukan sekadar penambahan, melainkan merupakan elemen penting yang mendorong kemakmuran ekonomi Indonesia, transformasi regional, dan pertumbuhan berkelanjutan di masa depan.

Selain itu, kapasitas ekspor yang besar ini diperkirakan akan menghasilkan US$6–7 miliar per tahun, dengan asumsi harga US$13 per MMBTU, sehingga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap cadangan devisa Indonesia. ‘

Di dalam negeri, alokasi gas pipa sebesar 150 MMSCFD dari proyek ini akan mendukung industri-industri lokal, termasuk sektor pupuk, petrokimia, dan pembangkit listrik, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada impor LNG yang mahal.

Penerima LNG

Dengan pasokan domestik yang telah terpenuhi secara memadai, fokus Proyek LNG Masela kini beralih ke penyelesaian komitmen ekspor globalnya. Memperoleh Perjanjian Jual Beli (SPA) dengan satu atau dua pembeli ekspor tersebut, serta menyelesaikan Perjanjian Hak Atas Tanah (LDA), merupakan hal yang sangat penting untuk mendapatkan dukungan keuangan internasional bagi proyek raksasa yang ambisius ini.

Sebagaimana dilaporkan media nasional sebelumnya, pembicaraan mengenai pembeli ekspor kini memasuki tahap negosiasi harga. Dari 66 pihak yang awalnya tertarik, calon pembeli internasional telah disaring menjadi lima kandidat terakhir.

Di antaranya adalah Osaka Gas (Jepang), Kyushu Electric Power (Jepang), Shell Trading (Global), BP Trading (Global), dan Chevron Trading (Global). Sebagaimana dilaporkan oleh beberapa media nasional, negosiasi sedang berlangsung di Tokyo serta di kantor BP dan Shell di Singapura.

Pembahasan tersebut berpusat pada penawaran pembelian rata-rata yang ditetapkan sekitar 12 persen dari harga minyak mentah Brent. Negosiasi berlangsung sangat sengit, dengan selisih antara ekspektasi penjual dan pembeli yang hanya sebesar ±0,2 persen.

Mendorong pertumbuhan ekonomi lokal

Selain mendukung industri nasional, proyek raksasa ini diharapkan dapat secara signifikan meningkatkan pembangunan ekonomi lokal di Maluku dan Kepulauan Tanimbar, serta mendorong pertumbuhan regional di Indonesia Timur.

Kementerian Energi menyatakan bahwa selama periode puncak konstruksi, diperkirakan akan tercipta lebih dari 12.000 lapangan kerja, dengan persyaratan ketat bahwa 30 persen tenaga kerja harus berasal dari masyarakat setempat. Angka ini serupa dengan jumlah pekerja yang tercipta saat proyek LNG Tangguh Train 3 dikembangkan beberapa tahun lalu.

Selain itu, 10 persen Kepemilikan Saham (PI) dalam proyek LNG Masela telah diberikan kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Provinsi Maluku. Hal ini memastikan kapasitas fiskal daerah dan memberdayakan pemerintah daerah untuk berinvestasi di berbagai bidang, seperti pengentasan kemiskinan, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan layanan kesehatan.

Seiring dengan kemajuan seperti sistem pengeboran, fasilitas Floating Production Storage and Offloading (FPSO), dan kilang LNG darat yang mulai terbentuk, proyek LNG Masela menjadi simbol ketekunan—mengubah harapan yang telah berlangsung selama puluhan tahun menjadi mesin penggerak yang kuat bagi transformasi regional, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan nasional yang berkelanjutan.

Seiring upaya pemerintah untuk memanfaatkan sumber daya dalam negeri dan mengurangi impor minyak dan gas guna memangkas ketergantungan pada impor minyak dan gas dari luar negeri, proyek LNG Masela ini berpotensi menjadi titik balik besar dan ‘pembawa perubahan’ bagi produksi gas alam dalam negeri.

Foto banner: Peletakan batu pertama dan pengembangan konsep proyek (Sumber: SKK Migas)

Like this article? share it

More Post

Receive the latest news

Subscribe To Our Weekly Newsletter

Get notified about new articles