Indonesia tawarkan proyek pengolahan sampah ke energi kepada para investor global

oleh Nabiha Shahab

Singapura – Di tengah meningkatnya tekanan tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir dan peraturan lingkungan yang semakin ketat, tiga perwakilan pemerintah Indonesia memanfaatkan Asia Infrastructure Forum (AIF) 2026 di Singapura, Rabu, 17 Juni, untuk mempresentasikan proyek-proyek pengelolaan sampah berskala besar kepada investor internasional. Hal ini menandakan pergeseran yang semakin nyata dari sistem pembuangan yang bergantung pada tempat pembuangan akhir menuju fasilitas pengolahan regional, produksi bahan bakar dari sampah (RDF), dan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa).

Proyek-proyek tersebut, yang dipaparkan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Jakpro) Iwan Takwin, dan pejabat bidang infrastruktur Jawa Barat Gunawan, secara keseluruhan mencakup rencana investasi lebih dari USD90 juta dan bertujuan mengatasi beberapa tantangan pengelolaan sampah yang paling mendesak di Jawa.

Presentasi mereka disampaikan pada saat yang kritis. Indonesia menghasilkan lebih dari 30 juta ton sampah setiap tahun, dengan Jawa menyumbang porsi terbesar akibat kepadatan penduduk dan urbanisasi yang pesat. Pada Maret 2026, tanah longsor dahsyat di TPA Bantar Gebang, Bekasi, merenggut tujuh nyawa ketika tumpukan sampah setinggi 50 meter runtuh. Di luar bahaya fisik, TPA di Indonesia merupakan penyumbang utama krisis iklim; gas metana yang dihasilkan dari penguraian sampah organik hampir 28 hingga 34 kali lebih merusak daripada CO₂ dalam kurun waktu 100 tahun.

Banyak pemerintah kota masih mengandalkan tempat pembuangan akhir yang sudah tua, sementara Kementerian Lingkungan Hidup telah mengintensifkan upaya untuk menghentikan praktik pembuangan sampah terbuka dan meningkatkan standar pengelolaan sampah. Para pemimpin daerah kini menjalin kerja sama dengan mitra global untuk mengatasi kesenjangan infrastruktur.

Jakarta andalkan program pengolahan sampah menjadi energi

Presentasi Jakarta berfokus pada Fasilitas Pengolahan Menengah atau Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter yang telah lama tertunda, salah satu proyek pengolahan sampah perkotaan menjadi energi paling ambisius di Indonesia. Iwan Takwin, Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Jakpro), mengatakan bahwa Jakarta saat ini menghasilkan sekitar 7.800 ton sampah rumah tangga setiap hari, dengan sebagian besar di antaranya masih berakhir di TPA Bantar Gebang. Fasilitas RDF yang ada telah membantu mengurangi volume sampah, namun sekitar 4.300 ton per hari masih terus diangkut ke tempat pembuangan akhir tersebut.

Fasilitas ITF Sunter yang diusulkan di Jakarta Utara akan mengolah 2.200 metrik ton sampah per hari dan menghasilkan 35 megawatt listrik melalui sistem pengolahan sampah menjadi energi berbasis pembakaran yang memenuhi standar emisi Eropa yang ketat (Direktif EC 2010/75/EU). Proyek ini menawarkan dua sumber pendapatan, yaitu melalui biaya pembuangan sampah yang dibayarkan oleh Pemerintah Kota Jakarta dan Perjanjian Pembelian Listrik (atau Power Purchase Agreement/PPA) yang telah ditandatangani dengan PLN.

Jakpro sedang mencari mitra di bidang rekayasa, pengadaan, konstruksi, dan pembiayaan (EPC+F), dengan pendapatan yang diharapkan berasal dari biaya pembuangan sampah dan penjualan listrik. Fasilitas ini dirancang untuk memenuhi standar emisi Uni Eropa dan diproyeksikan mampu mengolah hingga 720.000 metrik ton sampah setiap tahun.

Jawa Timur cari solusi tingkat daerah

Emil Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur, menyoroti besarnya tantangan di Jawa Timur, provinsi berpenduduk terbanyak kedua di Indonesia. Provinsi ini menghasilkan sekitar 5,9 juta metrik ton sampah setiap tahun, namun hanya sekitar setengahnya yang dikelola secara formal.

“Kami memiliki 42 juta penduduk, dan kota ini juga merupakan penyumbang ekonomi terbesar kedua bagi perekonomian Indonesia. Jadi, dengan jumlah penduduk sebesar itu, tentu saja dihasilkan banyak sampah, dan kami harus mampu mengelolanya dengan cara yang paling efisien dan efektif,” kata Emil.

Sebagian besar limbah yang dikelola diangkut langsung ke tempat pembuangan akhir, sementara hanya sebagian kecil yang didaur ulang atau dikurangi volumenya. Ia mencatat bahwa banyak tempat pembuangan akhir menghadapi kendala kapasitas dan beberapa di antaranya masih beroperasi dengan sistem pembuangan yang sudah ketinggalan zaman.

Presentasinya berfokus pada Kompleks Cendoro di Mojokerto, sebuah fasilitas pengolahan sampah terpadu seluas 50 hektar yang dirancang untuk melayani wilayah Gerbangkertasusila. Proyek Pengelolaan Sampah Regional Gerbangkertosusila akan melayani wilayah Surabaya Raya dan mengubah sampah menjadi RDF untuk keperluan industri. Proyek Cendoro diperkirakan menelan biaya antara USD 9,6 juta hingga USD 11,6 juta, dengan kapasitas 333 ton per hari dan pembeli RDF yang dihasilkan telah diidentifikasi.

Pemerintah telah memperoleh lahan dan sedang mempersiapkan studi kelayakan dengan dukungan dari Badan Kerjasama Internasional Jepang (Japan International Cooperation Agency/JICA). Fasilitas tersebut diperkirakan akan mengolah sampah dari Gresik, Sidoarjo, Lamongan, Mojokerto, dan Kota Mojokerto.

Pemerintah provinsi juga sedang mengevaluasi pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi tambahan untuk melengkapi fasilitas pengolahan sampah menjadi energi yang sudah ada di Surabaya berkapasitas 11 megawatt, yang kini tidak lagi memadai untuk melayani populasi wilayah metropolitan yang lebih luas, yaitu sekitar 10 juta orang.

Jawa Barat mempromosikan model RDF

Sementara itu, Jawa Barat memaparkan sebuah proyek kemitraan pemerintah-swasta tingkat daerah yang bertujuan untuk melayani lima kota di wilayah Cirebon Raya.

Gunawan, Kepala Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Barat, mengatakan bahwa wilayah tersebut saat ini menghasilkan sekitar 2.100 ton sampah setiap hari, angka yang diperkirakan akan meningkat menjadi lebih dari 2.300 ton pada tahun 2030. Fasilitas TPA yang ada saat ini diproyeksikan akan mencapai kapasitas maksimalnya pada tahun 2033.

Fasilitas yang diusulkan akan mengolah antara 800 dan 1.200 ton sampah per hari menggunakan teknologi pengolahan mekanis-biologis (MBT) untuk menghasilkan RDF, sekaligus mengalihkan setidaknya 80% sampah yang masuk dari pembuangan ke tempat pembuangan akhir. Proyek ini diperkirakan membutuhkan biaya modal sebesar USD 45,5 juta hingga USD 51,5 juta dan menargetkan tingkat pengembalian internal (IRR) hingga 15%.

Berbeda dengan pendekatan berbasis insinerator yang diterapkan di Jakarta, Jawa Barat memilih produksi RDF, dengan alasan biaya pembuangan yang lebih rendah, ketersediaan lahan, serta tingginya permintaan dari pabrik semen di sekitarnya yang membutuhkan bahan bakar alternatif.

Dengan status Proyek Strategis Nasional (PSN) yang menjamin dukungan regulasi dan politik, Gunawan menyoroti Tingkat Pengembalian Internal (IRR) yang kompetitif sebesar 12,75% hingga 15%, yang didukung oleh potensi Dana Penutupan Kesenjangan Kelayakan (VGF) yang dapat menutupi hingga 53% dari biaya, sehingga secara signifikan menurunkan biaya pembuangan sampah bagi pemerintah daerah.

Uji kepercayaan investor

Secara keseluruhan, ketiga proyek tersebut menggambarkan bagaimana provinsi-provinsi di Indonesia semakin mempromosikan infrastruktur pengelolaan sampah sebagai peluang investasi yang layak didanai, bukan sekadar layanan pemerintah kota.

Namun, tantangan masih ada. Tingkat pemilahan sampah masih rendah, ketergantungan pada tempat pembuangan akhir (TPA) masih berlangsung di sebagian besar wilayah Jawa, dan banyak pemerintah daerah kesulitan membiayai fasilitas modern tanpa dukungan pemerintah pusat. Keberhasilan proyek-proyek seperti ITF Sunter, Gerbangkertosusila, dan Greater Cirebon tidak hanya bergantung pada kemampuan menarik investor, tetapi juga pada jaminan pasokan sampah yang andal, kepastian regulasi, serta komitmen jangka panjang terkait biaya pembuangan sampah.

Bersama dengan upaya penggalangan investasi ini, Indonesia mengirimkan pesan bahwa krisis sampah di negara ini kini telah berkembang menjadi pasar infrastruktur tersendiri, dengan peluang investasi bernilai miliaran rupiah.

*tanahair.net adalah media partner resmi Asia Infrastructure Forum 2026

Foto banner dibuat menggunakan DALL·E dari OpenAI melalui ChatGPT (2025)

Like this article? share it

More Post

Receive the latest news

Subscribe To Our Weekly Newsletter

Get notified about new articles