Google, McKinsey, dan Thryve.Earth tandatangani perjanjian pembelian kredit karbon untuk rehabilitasi 6.000 ha lahan di Sulawesi

oleh: Roffie Kurniawan

Google dan McKinsey, melalui Symbiosis Coalition dan Thryve.Earth, telah menandatangani perjanjian pembelian kredit karbon untuk merehabilitasi 6.000 hektar lahan di Pulau Sulawesi, yang menandai kesepakatan pembelian kredit karbon yang signifikan di Indonesia.

Berdasarkan perjanjian tersebut, para anggota Symbiosis berkomitmen untuk membeli 335.000 metrik ton pengurangan karbon selama dekade mendatang dari Thryve.Earth, yang dikenal dengan proyek-proyek pengurangan karbon berbasis alamnya yang berintegritas tinggi di seluruh Asia Selatan dan Tenggara, demikian disampaikan Symbiosis dalam sebuah pernyataan pekan lalu.

Proyek yang merupakan proyek pertama Koalisi Symbiosis di bidang agroforestri ini akan merehabilitasi lahan yang terdegradasi di Sulawesi, Indonesia, dengan menanam pohon buah-buahan dan kayu produktif yang menyerap karbon sekaligus menghasilkan pendapatan nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat setempat.

Proyek-proyek agroforestri berpotensi menyimpan sekitar 1,1 hingga 2,6 miliar ton karbon secara global dan memberikan manfaat yang jauh melampaui sekadar penyerapan karbon. Dengan memadukan penanaman pohon dan tanaman pangan, proyek-proyek ini memiliki ukuran dan skala yang bervariasi, mulai dari yang melibatkan ribuan petani kecil hingga lahan pertanian berukuran menengah hingga besar.

Salah satu keunggulan utama proyek agroforestri adalah bahwa jika dirancang dengan baik, proyek-proyek tersebut dapat mengurangi risiko perpindahan aktivitas yang merugikan ke wilayah lain, sehingga berpotensi mengurangi degradasi dan tekanan deforestasi terhadap hutan-hutan di sekitarnya. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa proyek-proyek tersebut meningkatkan kesehatan tanah, memperbaiki daya serap air, dan meningkatkan keanekaragaman hayati, sehingga menciptakan lahan yang lebih produktif.

Para petani dan pemilik lahan memperoleh penghasilan baik dari pertanian maupun dari pendapatan karbon, yang berarti insentif finansial untuk memelihara dan mengembangkan sistem tersebut sudah tertanam sejak awal.

“Proyek Thryve menunjukkan bahwa hasil positif bagi masyarakat dan lingkungan bukan sekadar manfaat tambahan dari proyek-proyek yang memiliki integritas tinggi, melainkan—yang terpenting—merupakan pendorong utama kesuksesan,” kata Julia Strong, Direktur Eksekutif Symbiosis Coalition.

“Perjanjian pembelian jangka panjang dari para anggota Symbiosis memberikan kepastian yang dibutuhkan tim Thryve untuk mengembangkan proyek ini secara besar-besaran, dan itulah tepatnya sinyal yang membuka potensi dampak pasar ini serta proyek-proyek seperti Thryve bagi manusia dan planet,” kata Julia Strong.

“Kami bersyukur kini dapat memperluas upaya semacam ini di Sulawesi dengan menerapkan standar kelembagaan yang ketat dan tetap menempatkan para pemangku kepentingan sebagai pusat dari segala yang kami lakukan,” kata Vinay Kulkarni, salah satu pendiri dan CEO Thryve.Earth.

“Mengubah padang rumput yang terdegradasi kembali menjadi hutan yang produktif merupakan, di atas segalanya, sebuah tantangan operasional. Dengan memadukan bibit pohon berkualitas tinggi dan protokol lapangan yang ketat dengan pemantauan yang dapat diverifikasi di setiap hektar, kami memberikan keyakinan kepada mitra kami bahwa penyerapan karbon dan manfaat bagi masyarakat itu nyata, dapat diukur, dan dirancang untuk bertahan lama,” kata Ron Steinherz, salah satu pendiri dan COO Thryve.Earth.

Pembibitan tanaman milik Thryve.Earth yang berlokasi di Sulawesi (sumber foto: Thryve.Earth)

Pembiayaan karbon

Pembiayaan karbon memainkan peran penting dalam memperluas skala proyek ini. Model Thryve dikembangkan berdasarkan keberhasilan penerapan di Temboan, Sulawesi, dan Kalimantan Timur. Namun, biaya awal untuk membersihkan rumput invasif serta menanam tanaman dan pohon baru menjadi hambatan bagi para petani untuk secara mandiri memulai dan memperoleh manfaat dari sistem ini.

Model-model ini memanfaatkan keahlian lapangan selama puluhan tahun dari Yayasan Masarang, di bawah kepemimpinan Dr. Willie Smits, seorang ahli ekologi tropis dan pegiat konservasi. Karyanya telah membuktikan bahwa lanskap yang terdegradasi dapat dipulihkan sekaligus menyediakan mata pencaharian yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.

Perjanjian pembelian hasil produksi memberikan stabilitas volume dan harga yang dibutuhkan oleh pengembang proyek untuk menarik investasi, sehingga memungkinkan proyek tersebut berkembang hingga mencakup ribuan hektar. Manfaat lingkungannya tidak hanya sebatas penyerapan karbon.

Penerapan model ini sebelumnya telah menghasilkan peningkatan tutupan pohon, peningkatan kesehatan tanah, serta peningkatan ketahanan terhadap kekeringan dan kebakaran pada tahun-tahun awal.

Pemulihan hutan hujan di Sulawesi

Sulawesi, Indonesia, merupakan rumah bagi beberapa hutan hujan dengan keanekaragaman hayati tertinggi dan kandungan karbon paling melimpah di dunia. Namun, ekosistem-ekosistem penting ini telah mengalami degradasi yang parah akibat pertanian berpindah, erosi tanah, dan penyebaran spesies invasif.

Ribuan hektar lahan yang dulunya ditumbuhi hutan yang rimbun dan beragam kini telah berubah menjadi lanskap yang didominasi oleh rumput invasif yang mudah terbakar. Perubahan ini membuat para petani kecil harus berjuang menghadapi penurunan kesuburan tanah dan berupaya keras untuk mempertahankan mata pencaharian mereka.

Thryve telah memperkenalkan model agroforestri untuk memulihkan lanskap yang telah diambil alih oleh rumput invasif. Pendekatan ini melibatkan sistem pertanian terpadu yang tidak hanya menyerap karbon, tetapi juga memulihkan kesehatan tanah, mengurangi risiko kebakaran, serta meningkatkan keanekaragaman hayati dan pendapatan petani.

Model ini terdiri dari lapisan kanopi teratas yang terdiri dari pohon aren dan pohon kayu, lapisan tengah yang ditanami pepaya, alpukat, kopi, dan pisang, serta tanaman di permukaan tanah seperti cabai dan jagung. Konfigurasi ini memaksimalkan efisiensi pemanfaatan lahan dan mendiversifikasi pendapatan petani melalui jadwal panen yang bervariasi.

Tanaman seperti cabai dan jagung siap dipanen dalam waktu 6 bulan, sedangkan pisang dan pepaya mulai berbuah dalam waktu 12 hingga 18 bulan. Pohon-pohon seperti aren dan durian menjadi sumber penghasilan jangka panjang.

Secara keseluruhan, aliran pendapatan yang beragam ini jauh lebih menguntungkan daripada pendapatan dari karbon saja, sehingga memberikan insentif ekonomi yang mendukung kelangsungan pemeliharaan dan pertumbuhan sistem berkelanjutan ini.

Foto banner: Proyek agroforestri Thyrve.Earth yang berlokasi di Sulawesi (kredit foto: Thyrve.Earth)

Like this article? share it

More Post

Receive the latest news

Subscribe To Our Weekly Newsletter

Get notified about new articles