oleh: Agustinus Beo da Costa
Sepanjang 2026, isu bahwa saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) akan dikeluarkan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) Global Standard Index terus mencuat. Akibatnya, saham BREN terus mengalami tekanan dan memicu aksi jual investor institusi global dan memperburuk sentimen pasar terhadap saham perusahaan energi terbarukan milik kelompok Barito Group tersebut.
Dalam pengumuman penyesuaian indeks Mei 2026, MSCI menyatakan BREN termasuk enam saham Indonesia yang akan dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index. Keputusan tersebut efektif berlaku setelah penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026.
Berdasarkan data perdagangan pada penutupan Jumat, 22 Mei 2026, saham BREN turun 4,67 persen ke level Rp2.450 per lembar saham. Dalam satu bulan terakhir, saham ini telah melemah 53,99 persen. Jika dihitung sejak awal tahun, penurunannya mencapai 74,74 persen dari posisi Rp9.675 pada awal Januari 2026.
Menurut Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, tekanan terhadap saham emiten milik konglomerat Prayogo Pangestu itu terutama dipicu oleh keluarnya saham tersebut dari indeks MSCI yang selama ini menjadi acuan berbagai reksa dana dan Exchange Traded Fund (ETF) global.
“Kalau MSCI mengeluarkan saham dari indeksnya dan ada reksa dana atau ETF yang menjadikan MSCI sebagai acuan, biasanya saham tersebut juga akan dikeluarkan dari portofolio mereka. Nah, proses pengeluaran itu disebut rebalancing. Pada saat rebalancing terjadi memang biasanya akan ada tekanan jual terhadap saham tersebut,” ujarnya kepada tanahair.net, Jumat, 22 Mei 2026.
Menurut Rudiyanto, salah satu faktor utama keluarnya BREN dari indeks tersebut adalah tingginya konsentrasi kepemilikan saham atau high shareholding concentration. Kondisi ini membuat jumlah saham yang beredar di publik menjadi terbatas sehingga memengaruhi likuiditas perdagangan.
“Misalnya jumlah saham ada 100. Biasanya ada pembagian antara pengendali dan publik. Kalau high shareholding concentration, bisa jadi lebih dari 95 persen saham hanya dipegang oleh beberapa pihak saja,” katanya.
Berdasarkan data keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia per 11 Mei 2026, saham BREN dimiliki oleh PT Barito Pacific Tbk. sebesar 64,6 persen dan HSBC Singapore Branch sebesar 22,6 persen. Struktur kepemilikan tersebut menyebabkan porsi saham publik relatif kecil.
Selain faktor MSCI, sejumlah analis menilai pelemahan saham BREN juga dipengaruhi oleh koreksi valuasi setelah sebelumnya mengalami kenaikan yang sangat tinggi sejak initial public offering (IPO). Direktur Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada, mengatakan penurunan saham BREN tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan bagian dari proses penyesuaian pasar terhadap valuasi dan likuiditas saham.
“Pelemahan ini bukan semata-mata karena MSCI, tetapi juga karena sebelumnya harga saham sudah naik terlalu agresif sejak IPO,” ujarnya.
Saham BREN sempat mencapai level tertinggi sepanjang masa di Rp10.450 per lembar saham pada 15 Mei 2025. Padahal saat IPO pada Oktober 2023, harga saham perusahaan dipatok Rp780 per lembar. Artinya, saham BREN sempat melonjak lebih dari 1.100 persen hanya dalam waktu kurang dari dua tahun.
Menurut Reza, euforia terhadap saham grup konglomerasi besar menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga saham BREN dalam periode tersebut. Namun, ketika sentimen pasar berubah akibat isu MSCI dan likuiditas, tekanan jual ikut meningkat, terutama dari investor ritel.
Fundamental kuat
Meski demikian, pelemahan harga saham dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental bisnis perusahaan. Co-Founder AP Trading Insight Singapore, Kiswoyo Adhie Joe, menilai operasional bisnis BREN masih menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat, terutama di sektor panas bumi atau geothermal.
“Mereka membangun (proyek) geothermal; kapasitasnya juga terus bertambah. Harusnya nggak ada masalah. Net profit naik, revenue juga naik,” katanya.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal pertama 2026, BREN membukukan pendapatan sebesar USD 165 juta atau naik 9,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut ditopang oleh stabilnya produksi listrik panas bumi dan kontribusi pembangkit listrik tenaga angin.
Sementara itu, laba bersih perusahaan naik 24 persen menjadi USD 53 juta pada kuartal pertama 2026. Peningkatan laba terutama didukung oleh penurunan biaya pendanaan.
Dari sisi ekspansi, proyek retrofit Wayang Windu berhasil diselesaikan pada kuartal pertama 2026 sehingga meningkatkan total kapasitas panas bumi perusahaan menjadi 926 megawatt (MW). Perseroan juga tengah melanjutkan sejumlah proyek utama lain seperti Salak Unit 7, Wayang Windu Unit 3, dan retrofit Darajat Unit 3. Seluruh proyek tersebut ditargetkan dapat meningkatkan kapasitas panas bumi perusahaan menjadi lebih dari 1.000 MW pada akhir 2026.
Reza Priyambada menilai prospek bisnis energi terbarukan BREN masih cukup positif dalam jangka panjang seiring meningkatnya kebutuhan energi hijau secara global.
Menurut dia, penerapan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) di berbagai negara akan terus mendorong penggunaan energi terbarukan, meski proses transisi dari energi fosil membutuhkan waktu.
“Arah kebijakan dunia memang menuju energi terbarukan. Tapi transisinya tidak bisa instan. Semua perlu proses bertahap,” ujarnya.
Meski fundamental bisnis masih bertumbuh, analis menilai tantangan BREN belum sepenuhnya selesai. Selain persoalan likuiditas dan free float, pasar juga masih menunggu apakah valuasi saham perusahaan telah kembali ke level yang dianggap lebih wajar.
Dalam jangka pendek, tekanan terhadap saham BREN diperkirakan masih dapat berlanjut seiring proses rebalancing MSCI dan sentimen pasar yang negatif. Namun, dalam jangka panjang, pertumbuhan bisnis geothermal dan ekspansi energi terbarukan dinilai tetap dapat menjadi penopang apabila perusahaan mampu menjaga kinerja operasional dan memperbaiki struktur kepemilikan publiknya.
Foto banner: Gambar dibuat menggunakan DALL·E dari OpenAI melalui ChatGPT (2024)


