UNEP: Walau efisiensi energi meningkat, pengurangan emisi karbon pada bangunan mandek

Jakarta — Upaya global untuk mengurangi emisi karbon di sektor bangunan dan konstruksi mengalami perlambatan, yang mengancam pencapaian target iklim meskipun efisiensi energi terus meningkat, menurut laporan terbaru dari Program Lingkungan PBB (UNEP) dan Aliansi Global untuk Bangunan dan Konstruksi, yang dirilis pada Selasa, 19 Mei.

Laporan Global Status Report for Buildings and Construction atau Status Global Terbaru untuk Bangunan dan Konstruksi (2025–2026) menunjukkan bahwa emisi operasional dari bangunan meningkat sebesar 1 persen menjadi 9,9 gigaton CO₂ pada tahun 2024, yang menegaskan bahwa sektor ini tetap menjadi salah satu sumber utama gas rumah kaca.

Laporan ini dirilis di tengah krisis keterjangkauan perumahan dan energi global, yang menyoroti bahwa langkah-langkah mitigasi perubahan iklim pada bangunan dapat membantu mengurangi tagihan energi, meningkatkan kondisi kehidupan, dan memperkuat ketahanan terhadap guncangan iklim.

“Bangunan dapat memperparah risiko iklim atau justru menghadirkan kondisi hunian yang lebih aman, lebih sehat, dan lebih terjangkau,” kata Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen, sambil mencatat bahwa dengan setengah dari total bangunan di dunia yang masih akan dibangun atau direnovasi hingga tahun 2050, pemerintah kini berada di titik kritis untuk bertindak.

Jangkauan sektor ini terus berkembang pesat. Pada tahun 2024, luas lantai global meningkat sebesar 1,7 persen menjadi 273 miliar meter persegi, yang sebagian besar didorong oleh kegiatan konstruksi di negara-negara berkembang, termasuk di Asia Tenggara. Sektor bangunan dan konstruksi kini menyumbang hampir 37 persen dari emisi global dan 28 persen dari konsumsi energi.

Meskipun intensitas energi telah membaik sebesar 8,5 persen sejak 2015 dan sertifikasi bangunan ramah lingkungan hampir tiga kali lipat, laju kemajuan telah melambat sejak 2020 karena laju pembangunan melampaui upaya dekarbonisasi. Energi terbarukan hanya memenuhi 17,3 persen dari kebutuhan energi bangunan pada tahun 2024—jauh di bawah yang dibutuhkan untuk mencapai jalur net-zero.

Investasi juga masih belum memadai. Meskipun investasi di bidang efisiensi energi mencapai 275 miliar dolar AS tahun lalu, laporan tersebut memperkirakan bahwa dibutuhkan 5,9 triliun dolar AS hingga tahun 2030 agar sektor ini selaras dengan target iklim.

Laporan tersebut menyerukan percepatan langkah-langkah kebijakan, termasuk pengetatan peraturan bangunan, peningkatan pendanaan, dan penghentian penggunaan bahan bakar fosil secara lebih cepat dalam tahap konstruksi dan operasional, agar sektor ini sejalan dengan jalur emisi nol bersih pada pertengahan abad ini. (nsh)

Foto banner: Gedung-gedung bertingkat di Jakarta. Dapur Melodi/Pexels.com

Like this article? share it

More Post

Receive the latest news

Subscribe To Our Weekly Newsletter

Get notified about new articles