PGE raih USD477,9 juta pendanaan internasional untuk tiga proyek panas bumi

Jakarta — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (IDX: PGEO) telah memperoleh komitmen pembiayaan internasional sebesar USD477,87 juta untuk tiga proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi setelah proyek-proyek tersebut dimasukkan ke dalam Buku Hijau 2026 pemerintah, yaitu daftar proyek-proyek prioritas yang memenuhi syarat untuk mendapatkan pinjaman luar negeri yang dikoordinasikan melalui mitra pembangunan internasional.

Pengembang geotermal tersebut menyatakan dalam laman keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Minggu, 7 Juni, bahwa dimasukkannya proyek-proyek tersebut ke dalam Buku Hijau yang diterbitkan oleh Kementerian Perencanaan
Pembangunan/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) mencerminkan kesiapan mereka untuk memasuki tahap pengembangan berikutnya serta memperkuat akses terhadap pembiayaan dengan syarat khusus dari lembaga pemberi pinjaman global.

Ketiga proyek tersebut adalah pembangkit listrik tenaga panas bumi Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 megawatt (MW), proyek Lumut Balai Unit 4 berkapasitas 55 MW, dan proyek perluasan pembangkit listrik tenaga panas bumi Lahendong Unit 7-8 berkapasitas 50 MW. Secara keseluruhan, ketiga proyek tersebut diperkirakan akan memperoleh pembiayaan melalui skema penyaluran kembali senilai USD477,87 juta. Paket pendanaan tersebut mencakup USD158,86 juta dari Badan Kerjasama Internasional Jepang (JICA) untuk Lumut Balai Unit 3, USD148,97 juta dari JICA untuk Lumut Balai Unit 4, dan USD170,04 juta dari Bank Dunia untuk Lahendong Unit 7-8.

Pengumuman pendanaan ini muncul bersamaan dengan laporan PGE mengenai kinerja keuangan dan operasional yang lebih baik pada kuartal pertama tahun 2026. Perusahaan mencatat kenaikan laba bersih sebesar 40% secara tahunan menjadi USD43,9 juta, sementara pendapatan naik 14,8% menjadi USD116,56 juta. Produksi listrik naik 15,22% dari tahun sebelumnya menjadi 1.370 gigawatt-jam (GWh).

Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, mengatakan bahwa masuknya perusahaan ke dalam Green Book menunjukkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap portofolio panas bumi perusahaan dan mendukung upaya untuk mempercepat pelaksanaan proyek.

“Kami optimistis penguatan fundamental bisnis, didukung portofolio proyek yang semakin matang, akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan berkelanjutan Perseroan sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional,” kata Yani.

Proyek-proyek tersebut merupakan bagian dari peta jalan PGE untuk memperluas kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi menjadi 3 gigawatt (GW). Setelah beroperasi, fasilitas-fasilitas baru tersebut diharapkan dapat meningkatkan pasokan listrik rendah emisi dan memperkuat kontribusi energi panas bumi terhadap bauran energi Indonesia.

Terletak di Sumatera Selatan, Unit 3 dan 4 Lumut Balai akan memperluas pengembangan energi panas bumi di Sumatera dan telah memiliki perjanjian pembelian listrik. Sementara itu, proyek Unit 7-8 Lahendong di Sulawesi Utara diperkirakan akan meningkatkan kontribusi PGE terhadap pasokan listrik provinsi tersebut dari sekitar 30% menjadi antara 35% dan 40% dari total kebutuhan.

PGE, yang menyebut diri sebagai salah satu produsen energi panas bumi terkemuka di dunia, menyatakan akan terus mengupayakan pertumbuhan melalui optimalisasi aset, perluasan bisnis, dan pengembangan sumber pendapatan baru, sekaligus mendukung transisi Indonesia menuju sumber energi yang lebih bersih. (nsh)

Foto banner: Unit 5 dan 6 Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Lahendong di Tompaso, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. (Foto: Hartatik)

Like this article? share it

More Post

Receive the latest news

Subscribe To Our Weekly Newsletter

Get notified about new articles