
Jakarta — Pemadaman listrik yang terjadi baru-baru ini di seluruh Sumatra bukan sekadar akibat kegagalan teknis yang terisolasi, tapi justru mengungkap kelemahan struktural yang lebih mendalam dalam sistem kelistrikan Indonesia, terutama kerentanannya terhadap cuaca ekstrem dan pemadaman berantai.
Dalam webinar yang baru-baru ini diselenggarakan oleh Institute for Essential Services Reform (IESR), Hariadi Aji, kandidat doktor di Universitas Teknologi Delft dan peneliti yang berafiliasi dengan PLN, mengatakan bahwa prioritas paling mendesak adalah memperkuat ketahanan jaringan listrik melalui peningkatan infrastruktur, perencanaan operasional yang lebih baik, dan investasi yang berorientasi pada ketahanan.
“Kasus di Sumatra menunjukkan bahwa penguatan infrastruktur, rekonfigurasi jaringan, dan penggunaan bahan yang lebih tahan lama termasuk di antara solusi yang paling relevan,” kata Hariadi. Ia juga menekankan perlunya teknologi canggih seperti sistem transmisi arus bolak-balik fleksibel (FACTS), penyimpanan baterai, peramalan permintaan yang lebih akurat, dan sistem prediksi bencana.
Di tingkat kebijakan, ia menekankan bahwa operator jaringan perlu melampaui perencanaan darurat konvensional.
Secara tradisional, sistem tenaga listrik dirancang untuk menahan kegagalan satu komponen. Namun, menurutnya, risiko yang terkait dengan iklim semakin sering melibatkan terjadinya beberapa kegagalan secara bersamaan di wilayah geografis yang sama.
“Dalam situasi darurat yang dipicu oleh kondisi cuaca, beberapa unit peralatan mungkin mengalami pemutusan arus secara bersamaan karena terpapar bahaya yang sama,” kata Hariadi. “Para operator perlu mengantisipasi hal ini dan bersiap-siap dengan baik.”
Mengapa pemadaman listrik di Sumatra terjadi
Hariadi menjelaskan bahwa pemadaman listrik yang baru-baru ini terjadi di Sumatra harus dipahami dari sudut pandang stabilitas jaringan listrik dan kegagalan berantai.
Ia menyoroti tiga insiden besar di Sumatra selama setahun terakhir: runtuhnya menara transmisi di Aceh pada 26 November, kegagalan konduktor di dekat Jambi pada 22 Mei, dan runtuhnya menara transmisi lainnya di Sumatra Utara pada bulan Juni. Di antara insiden-insiden tersebut, insiden pada 22 Mei memiliki dampak paling parah terhadap seluruh sistem.
Menurut Hariadi, pemadaman listrik tersebut dipicu oleh apa yang oleh para ahli kelistrikan disebut sebagai “peristiwa pemicu”—suatu gangguan seperti pemutusan saluran atau runtuhnya menara yang memicu ketidakstabilan jaringan.
Dalam kasus-kasus yang lebih sederhana, sistem dapat pulih dengan cepat dengan mengisolasi gangguan tersebut dan memulihkan operasi. Namun, pemadaman listrik di Sumatra berbeda.
“Apa yang terjadi di Sumatra pada 22 Mei adalah gangguan yang tidak sederhana yang menyebabkan ketidakstabilan dan memicu pemadaman beruntun,” katanya.
Pemadaman beruntun terjadi ketika satu kegagalan memicu kegagalan lainnya secara berurutan dan cepat. Ketika saluran transmisi terputus dan aliran listrik berubah secara tak terduga, sistem dapat terpecah menjadi beberapa bagian yang terputus satu sama lain, yang pada akhirnya mengakibatkan pemadaman listrik besar-besaran.
Hal ini tampaknya terjadi di Sumatra: gangguan lokal yang kemudian berkembang menjadi kegagalan sistem di tingkat regional.
Mengapa Sumatra sangat rentan
Penelitian Hariadi menunjukkan bahwa Sumatra menghadapi risiko pasokan listrik yang terkait dengan perubahan iklim yang lebih tinggi dibandingkan dengan banyak wilayah lain di Indonesia.
Dengan memanfaatkan pemetaan Sistem Informasi Geografis (GIS) dan analisis overlay, timnya mengevaluasi bagaimana bahaya iklim beririsan dengan infrastruktur listrik seperti generator, gardu induk, dan saluran transmisi. Temuan mereka menunjukkan bahwa Sumatra termasuk di antara wilayah-wilayah di Indonesia yang paling rentan terhadap guncangan terkait iklim, terutama banjir dan tanah longsor.
“Sumatra sebagai sebuah pulau memiliki indeks kerentanan yang tinggi,” kata Hariadi. “Pulau ini sangat rentan terhadap bencana seperti banjir dan tanah longsor.”
Hal tersebut penting karena cuaca ekstrem dapat merusak infrastruktur transmisi secara fisik, sehingga menyebabkan pemadaman yang sulit dipulihkan dengan cepat.
Insiden-insiden yang baru-baru ini terjadi di Sumatra menggambarkan risiko ini. Hujan lebat, tanah longsor, dan kondisi tanah yang tidak stabil dapat melemahkan menara, merusak kabel, atau menyebabkan gardu induk terendam air, sehingga memaksa operator untuk memutus pasokan listrik guna mencegah kerusakan lebih lanjut.
Perubahan iklim semakin memperparah tekanan pada jaringan listrik
Selain kerusakan fisik, perubahan iklim juga menimbulkan “tekanan” pada sistem kelistrikan, bahkan selama operasi normal.
Hariadi mengelompokkan dampak iklim menjadi dua jenis: stres dan guncangan.
Stres mengacu pada kondisi jangka panjang, seperti kenaikan suhu yang secara bertahap menurunkan kinerja sistem. Suhu yang lebih tinggi menurunkan efisiensi pembangkit listrik dan sistem transmisi, sehingga mengurangi daya keluaran maksimumnya. Di saat yang sama, permintaan listrik meningkat seiring dengan meningkatnya penggunaan AC oleh rumah tangga dan pelaku usaha.
Istilah “kejadian ekstrem” merujuk pada peristiwa cuaca ekstrem yang terjadi secara tiba-tiba, seperti banjir, tanah longsor, dan badai, yang dapat secara langsung merusak infrastruktur dan memicu gangguan layanan.
Menurut penelitiannya, kenaikan suhu dapat mengurangi kapasitas pembangkit listrik sekitar 3–4 persen. Meskipun angka ini terdengar tidak terlalu besar, dampaknya secara absolut cukup signifikan, setara dengan hilangnya kapasitas sebesar beberapa gigawatt di seluruh negeri.
Ditambah dengan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, hal ini menimbulkan tekanan yang semakin besar pada jaringan listrik yang sudah beroperasi dengan fleksibilitas terbatas.
Para ilmuwan memperkirakan bahwa peristiwa ekstrem yang terkait dengan iklim akan semakin sering terjadi dan semakin intens, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan di masa depan.
Peringatan bagi transisi energi Indonesia
Pemadaman listrik di Sumatra menjadi peringatan yang lebih luas bagi transisi energi Indonesia.
Seiring meningkatnya permintaan listrik dan negara ini bergerak menuju sistem kelistrikan yang lebih kompleks, saling terhubung, dan didominasi oleh energi terbarukan, ketahanan menjadi sama pentingnya dengan kapasitas pembangkit.
Bagi Hariadi, membangun jaringan listrik yang tangguh terhadap perubahan iklim memerlukan tindakan di tiga bidang: pasokan energi yang andal, infrastruktur yang lebih kokoh, dan lembaga-lembaga yang mampu mengelola risiko-risiko baru. Artinya, perusahaan utilitas, regulator, operator pasar, dan pemasok harus bekerja sama untuk menyesuaikan jaringan listrik guna menghadapi masa depan yang semakin dipengaruhi oleh ketidakpastian iklim.
Dia mengatakan bahwa mencegah pemadaman listrik di masa depan tidak cukup hanya dengan memperbaiki menara-menara yang rusak. Hal itu memerlukan perancangan ulang sistem kelistrikan agar mampu menahan risiko yang semakin meningkat akibat iklim yang semakin panas dan tidak menentu. (nsh)
Foto banner: Gambar dibuat menggunakan DALL·E dari OpenAI melalui ChatGPT (2026)


