Jakarta – Masalah polusi udara di Indonesia kini meluas jauh melampaui kota-kota besarnya, dengan analisis satelit terbaru yang mengidentifikasi titik-titik panas emisi nitrogen oksida (NOx) yang signifikan di sekitar pembangkit listrik tenaga batu bara, fasilitas industri, tambang, dan pusat pengolahan nikel yang berkembang pesat.
Analisis yang dilakukan oleh Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), yang diterbitkan pada Kamis, 13 Agustus, mengidentifikasi 29 sumber emisi NOx utama di seluruh Indonesia. Analisis tersebut juga menunjukkan tren yang lebih luas: emisi NOx di Indonesia telah meningkat tajam selama dekade terakhir seiring dengan terus bergantungnya sektor transportasi, pembangkit listrik, dan kegiatan industri pada bahan bakar fosil.
Temuan ini menawarkan sudut pandang yang berbeda terhadap tantangan kualitas udara di Indonesia. Polusi bukanlah sekadar masalah Jakarta atau pusat-pusat perkotaan besar lainnya. Beberapa sumber emisi paling signifikan justru berada di wilayah-wilayah yang relatif terpencil di kepulauan ini, di mana ekspansi industri menimbulkan beban polusi tanpa adanya pemantauan publik yang memadai.
Perubahan tersebut sangat terlihat di wilayah-wilayah penghasil nikel di Indonesia.

Boom nikel memunculkan masalah polusi baru
CREA mengidentifikasi enam titik rawan emisi NOx yang terkait dengan pengolahan nikel di Sulawesi dan Maluku Utara. Laporan tersebut mengaitkan munculnya titik-titik tersebut dengan perluasan pesat pembangkit listrik berbahan bakar batu bara yang dibangun secara khusus untuk memasok kebutuhan energi pabrik peleburan dan kawasan industri yang boros energi.
Kapasitas pembangkit listrik berbahan bakar batu bara di provinsi-provinsi penghasil nikel meningkat lebih dari enam kali lipat, dari sekitar 3 gigawatt pada tahun 2019 menjadi 16 GW pada tahun 2025, menurut laporan tersebut. Pertumbuhan tersebut semakin pesat setelah Indonesia melarang ekspor bijih nikel mentah pada tahun 2020 dan mendorong pengembangan pengolahan hilir di dalam negeri.
Hasilnya adalah pola polusi yang tidak biasa. Emisi NOx gabungan dari titik-titik rawan polusi di Sulawesi dan Maluku diperkirakan mencapai 43,5 kiloton, lebih tinggi daripada 37,7 kiloton yang berasal dari sumber-sumber titik di wilayah Jabodetabek sebagaimana diidentifikasi dalam studi tersebut.
Indonesia Morowali Industrial Park serta pusat-pusat pengolahan nikel lainnya di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara termasuk di antara wilayah-wilayah yang disoroti dalam analisis satelit tersebut. Di Maluku Utara, Weda Bay Industrial Park menonjol sebagai salah satu titik panas NOx yang tumbuh paling pesat. Menurut laporan tersebut, fasilitas tersebut dialiri listrik dari kompleks pembangkit listrik tenaga batu bara milik sendiri dengan kapasitas sekitar 4,54 GW.
Kota-kota tetap menjadi zona risiko utama
Analisis satelit juga menegaskan bahwa pusat-pusat polusi perkotaan yang sudah mapan di Indonesia tetap menjadi masalah yang signifikan. Sembilan dari 29 titik panas terletak di dalam atau di sekitar kawasan metropolitan utama, termasuk Jabodetabek, Surabaya, dan Medan. Di kawasan-kawasan tersebut, emisi dari sektor transportasi bercampur dengan emisi dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil dan aktivitas industri, sehingga membentuk wilayah udara bersama yang melampaui batas-batas administratif.
Jakarta Utara dan kawasan industri yang membentang hingga Bekasi, Karawang Barat, dan Cikampek merupakan beberapa contoh yang paling menonjol. Laporan tersebut menunjukkan bahwa pembangkit listrik berbahan bakar gas di sepanjang pesisir Jakarta Utara serta fasilitas industri di Jawa Barat merupakan sumber utama yang berkontribusi terhadap beban polusi di wilayah tersebut.
Kompleks Suralaya di Banten merupakan salah satu titik rawan utama lainnya. CREA mengaitkan polusi di kawasan tersebut dengan kombinasi pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dan gas serta industri berat, termasuk industri baja, semen, dan kimia.
Laporan tersebut mengutip penelitian sebelumnya yang memperkirakan bahwa polusi yang terkait dengan kompleks Suralaya telah memaparkan jutaan orang dan dikaitkan dengan 1.063 kematian dini serta kerugian ekonomi tahunan yang diperkirakan mencapai 1,04 miliar dolar AS.
Masalah polusi yang sulit terdeteksi oleh data inventarisasi
Salah satu temuan terpenting dalam laporan ini bersifat metodologis sekaligus lingkungan. CREA membandingkan pengamatan satelit dengan inventaris emisi global dan menemukan bahwa baik Emissions Database for Global Atmospheric Research (EDGAR) maupun Community Emissions Data System (CEDS) menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam emisi NOx Indonesia, meskipun keduanya memiliki perbedaan yang cukup besar terkait skala dan distribusi sektoral emisi tersebut.
EDGAR memperkirakan kenaikan sebesar 46% antara tahun 2010 dan 2022, sedangkan CEDS memperkirakan kenaikan sebesar 59% antara tahun 2010 dan 2023. Kedua kumpulan data tersebut menunjukkan bahwa sektor transportasi dan pembangkit listrik merupakan pendorong utama, namun perkiraan mereka untuk sektor industri sangat berbeda.
Perbedaan tersebut cukup signifikan karena mengindikasikan adanya masalah tata kelola yang mendasar: para pembuat kebijakan tidak dapat secara efektif mengelola polusi yang tidak dapat mereka ukur secara akurat.
Batu bara captive merupakan titik buta dalam kebijakan
Temuan satelit tersebut juga mengungkap ketegangan di jantung transisi energi Indonesia. Sementara kebijakan dekarbonisasi nasional sangat berfokus pada jaringan listrik, pembangkit listrik mandiri industri justru berkembang pesat. CREA menyebutkan bahwa kapasitas pembangkit listrik batu bara mandiri yang melayani kawasan industri pengolahan (captive) meningkat dari 10,4 GW pada tahun 2023 menjadi 19,3 GW pada tahun 2025, yang menyumbang sekitar 80% dari penambahan kapasitas batu bara baru selama periode tersebut. Proyek pembangkit listrik berbahan bakar batu bara untuk keperluan sendiri yang sudah beroperasi, direncanakan, dan sedang dibangun telah mencapai sekitar 31 GW, menurut laporan tersebut.
Pengolahan nikel merupakan pendorong utama ekspansi ini. Hal ini menimbulkan kontradiksi kebijakan, karena upaya untuk mengurangi polusi dan emisi dari sistem kelistrikan umum dapat terhambat oleh pertumbuhan berkelanjutan kapasitas pembangkit berbahan bakar fosil yang tidak terhubung ke jaringan listrik dan melayani proyek-proyek industri.
CREA berpendapat bahwa pengecualian regulasi yang berlaku saat ini bagi pembangkit listrik captive yang melayani Proyek-Proyek Strategis Nasional telah turut menyebabkan munculnya titik buta ini. Organisasi tersebut memperkirakan bahwa mengecualikan unit-unit captive dari target penghentian pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dapat mengakibatkan tambahan 27.000 kematian akibat polusi udara serta biaya ekonomi kumulatif sebesar 20 miliar dolar AS.
Dari pemantauan hingga penegakan hukum
Laporan ini dirilis di tengah upaya Indonesia untuk memperkuat inventarisasi emisi dan kerangka kerja peringatan dini kualitas udara. Oleh karena itu, rekomendasi CREA tidak hanya sebatas seruan untuk meningkatkan pemantauan kualitas udara.
Organisasi tersebut mendesak pemerintah untuk memberlakukan standar kualitas udara ambien dan emisi yang lebih ketat, memasukkan biaya kesehatan akibat polusi ke dalam perencanaan energi dan industri, serta menggabungkan pemantauan emisi berkelanjutan, pengukuran di lapangan, dan data satelit untuk penegakan hukum.
Laporan tersebut juga menyerukan adanya dasbor emisi yang dapat diakses publik secara real-time, yang memuat data pemantauan cerobong asap dan kualitas udara ambien. Organisasi tersebut juga merekomendasikan agar standar kualitas udara ambien nasional lebih mendekati tolok ukur yang didasarkan pada aspek kesehatan. CREA mencatat bahwa standar tahunan NO₂ di Indonesia masih jauh lebih longgar dibandingkan dengan pedoman WHO.
Peta satelit pada akhirnya mengungkap gambaran yang berisiko terlewatkan oleh kebijakan kualitas udara konvensional. Polusi di Indonesia mengikuti pola geografi ekonominya: menjangkau kawasan industri, wilayah pertambangan, dan pusat pengolahan nikel, serta kota-kota padat penduduk. (nsh)
Foto banner: Morowali Utara, Indonesia. 26 Nov 2022. Eklesia_Magelo/shutterstock.com


