Jakarta – Sebanyak 1.487 titik api terdeteksi di seluruh Kalimantan seiring Indonesia memasuki musim kemarau, demikian disampaikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Kamis, 20 Agustus.
Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Timur melahap 10,65 hektar pada Rabu di Desa Sepan, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, tanpa ada laporan korban jiwa. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, dibantu oleh personel gabungan, berhasil memadamkan api pada hari yang sama.
Data pemantauan terbaru dari satelit NOAA-20 per Kamis mencatat konsentrasi titik panas tertinggi di Kalimantan Tengah, yaitu 767 titik, disusul Kalimantan Barat dengan 560 titik. Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing mencatat 74 titik panas, sedangkan Kalimantan Utara mencatat tiga titik panas.
Indonesia siaga
Indonesia sedang mempercepat persiapan untuk menangani kebakaran hutan dan lahan seiring dengan fenomena El Niño yang sangat kuat yang meningkatkan risiko terjadinya kondisi kering, sementara insiden-insiden terbaru di laut telah menyoroti perlunya perhatian yang lebih besar terhadap perubahan kondisi laut.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan pada Selasa, 18 Agustus, bahwa fenomena El Niño sudah aktif dengan intensitas yang sangat kuat. Ia mengatakan fenomena tersebut datang lebih awal dari yang diperkirakan semula dan menunjukkan kemiripan dengan El Niño tahun 2015, ketika Indonesia dilanda kebakaran hutan dan lahan yang meluas.
Dari Januari hingga Juli, sekitar 202.000 hektar terdampak kebakaran hutan dan lahan, dengan 57% di antaranya terjadi di kawasan hutan dan sisanya di luar kawasan hutan. Provinsi-provinsi yang paling parah terdampak antara lain Kalimantan Barat, Papua Selatan, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Riau.
Kementerian Kehutanan menyatakan telah memperkuat upaya deteksi dini, pos-pos darurat, operasi pemadaman kebakaran, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan lembaga-lembaga terkait. Operasi sedang berlangsung di enam provinsi prioritas, sementara kementerian tersebut juga bekerja sama dengan BMKG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dalam pelaksanaan operasi modifikasi cuaca.
Meningkatnya risiko iklim ini terjadi di tengah peringatan BMKG mengenai pentingnya memantau kondisi laut secara cermat menyusul beberapa kecelakaan kapal yang terjadi belakangan ini.
Dalam analisis yang disampaikan kepada para anggota DPR, BMKG menyatakan bahwa kondisi di sekitar empat lokasi kecelakaan sangat bervariasi, meskipun cuaca secara umum cerah hingga berawan dan tidak terdeteksi adanya curah hujan pada saat kejadian. Misalnya, pada kecelakaan KMP Putri Yasmin di lepas pantai Lombok pada 12 Agustus, tinggi gelombang mencapai 2–3 meter, sementara arus permukaan diklasifikasikan sebagai kuat hingga sangat kuat, dengan kecepatan 2–4 knot. Kecelakaan tersebut menelan setidaknya satu korban jiwa, dengan empat orang lainnya masih hilang.
BMKG juga menganalisis beberapa insiden kapal lainnya yang terjadi baru-baru ini, termasuk insiden KMP Mutiara Sentosa II di lepas pantai Sumenep dan KMP Nurul Salsa di Sulawesi Selatan, di mana tercatat adanya kondisi angin, gelombang, dan arus yang bervariasi.
BMKG menekankan bahwa analisisnya menggambarkan kondisi meteorologi dan oseanografi pada saat dan lokasi kejadian, dan tidak dimaksudkan untuk menentukan penyebab kecelakaan tersebut, yang menjadi kewenangan lembaga penyelidikan terkait. (nsh)
Foto banner: Petugas dari tim gabungan berupaya memadamkan api yang membakar lahan di wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur, pada Rabu, 19 Agustus 2026. Sumber foto: BPBD Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan


