Jakarta — Institut Reformasi Layanan Esensial (IESR) memperingatkan bahwa sistem kelistrikan Indonesia menghadapi risiko yang semakin besar akibat peristiwa cuaca ekstrem, menyusul pemadaman listrik besar-besaran yang baru-baru ini terjadi di Sumatra yang terkait dengan cuaca buruk dan gangguan pada jaringan transmisi.
Dalam webinar yang digelar pada Kamis, 25 Juni, Deon Arinaldo, Direktur Transformasi Sistem Energi, mengatakan bahwa pemadaman listrik yang terjadi baru-baru ini di Sumatra seharusnya menjadi peringatan bahwa keandalan sistem kelistrikan tidak hanya harus mencakup keterjangkauan dan pasokan yang tidak terputus, tetapi juga ketahanan infrastruktur.
Dua insiden besar di Sumatra memicu diskusi tersebut. Pada 22 Mei, pemadaman listrik besar-besaran di Sumatra dilaporkan dipicu oleh cuaca buruk yang mengganggu infrastruktur transmisi di Muaro Bungo, Jambi. Beberapa minggu kemudian, pada awal Juni, 12 menara transmisi di Sumatra Utara roboh, dan sekali lagi hujan lebat serta angin kencang diidentifikasi sebagai penyebab yang mungkin.
“Kedua kejadian ini perlu kita lihat sebagai peringatan bahwa sistem ketenagalistrikan kita itu tidak hanya diukur dari keandalan sistem listriknya untuk menyediakan listrik secara reliable, tetapi juga terus-menerus dengan biaya yang affordable. Namun, juga ada aspek ketahanan yang terkait dengan infrastruktur fisiknya sendiri. Dan ini juga bagaimana aspek infrastruktur ini bisa lebih tahan menghadapi kejadian tidak terduga, termasuk di antaranya adalah cuaca ekstrem atau saya sebut sebagai grid resilience di sini,” kata Deon.
Ia mencatat bahwa perubahan iklim meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem, sehingga menimbulkan risiko yang semakin besar bagi infrastruktur penting seperti jaringan listrik. Suhu global telah naik sekitar 1,15 derajat Celsius, mendekati ambang batas 1,5 derajat yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris.
Menurut Deon, data bencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia menunjukkan lonjakan tajam dalam jumlah bencana yang terkait dengan cuaca. Selama lima tahun terakhir, Indonesia mencatat sekitar 18.000 kejadian yang berkaitan dengan cuaca ekstrem, banjir, dan tanah longsor—lebih dari dua kali lipat jumlah 7.700 kasus yang tercatat antara tahun 2011 dan 2015.
IESR menyatakan bahwa tren-tren ini menyoroti kebutuhan mendesak untuk meningkatkan perencanaan, pengoperasian, dan pengelolaan sistem kelistrikan agar mampu menghadapi gangguan yang terkait dengan perubahan iklim.
Webinar ini merupakan bagian dari rangkaian acara yang lebih luas yang diselenggarakan oleh IESR, yang bertujuan untuk mengkaji penyebab-penyebab gangguan jaringan listrik yang terjadi belakangan ini serta mengeksplorasi strategi-strategi untuk membangun sistem kelistrikan yang lebih tangguh di Indonesia. (nsh)
Foto banner: Gambar dibuat menggunakan DALL·E dari OpenAI melalui ChatGPT (2024)


