Jakarta — Ekolabel atau label ramah lingkungan seharusnya tidak hanya dipandang sebagai sertifikasi produk, melainkan sebagai instrumen strategis untuk mendorong aksi iklim, konsumsi berkelanjutan, dan transisi menuju ekonomi hijau, demikian menurut Ketua Indonesian Environmental Scientist Association (IESA), Dr. Yuki Wardhana.
Menurut Yuki, ekolabel memainkan peran penting dalam mengubah pola produksi dan konsumsi dengan mendorong pelaku usaha dan konsumen untuk membuat pilihan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Melalui ekolabel, konsumen memperoleh informasi yang dapat dipercaya mengenai dampak lingkungan dari suatu produk, sementara produsen didorong untuk meningkatkan efisiensi sumber daya, mengurangi emisi, dan menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan di seluruh rantai nilai mereka.
Dalam webinar “Ekolabel untuk Aksi Iklim”, Selasa, 16 Juni, yang diselenggarakan untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Yuki mengatakan bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman di masa depan, “melainkan kenyataan yang sedang kita hadapi saat ini”, yang menuntut tindakan kolektif dan berkelanjutan. Ia menyoroti perubahan pola cuaca, kenaikan suhu global, degradasi lingkungan, dan meningkatnya bencana ekologi sebagai bukti akan kebutuhan mendesak akan upaya mitigasi dan adaptasi iklim.
“Ekolabel pada hakikatnya merupakan bentuk nyata dari aksi iklim,” katanya, “Ketika produsen berkomitmen menghasilkan produk yang ramah lingkungan, ketika konsumen memilih produk yang bertanggung jawab, dan ketika pemerintah menciptakan kebijakan yang mendukung ekonomi hijau, maka kita sedang membangun sebuah ekosistem yang mampu mempercepat pencapaian target pembangunan berkelanjutan dan komitmen iklim nasional.”
Yuki menekankan bahwa upaya Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan bertransisi menuju ekonomi hijau tidak dapat hanya bergantung pada peraturan pemerintah. Partisipasi aktif dari kalangan akademisi, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, komunitas lingkungan, dan masyarakat luas sama pentingnya.
Melalui kampanye #SekarangUntukIklim, IESA mendorong masyarakat untuk mengambil langkah-langkah praktis dengan membuat pilihan konsumsi yang lebih berkelanjutan, meningkatkan praktik pengelolaan sampah, mendukung produk yang ramah lingkungan, serta mendorong inovasi yang berkontribusi pada perlindungan lingkungan. “Tidak ada aksi yang terlalu kecil ketika dilakukan oleh jutaan orang secara bersama-sama,” kata Yuki.
Webinar tersebut juga menunjukkan adanya minat yang besar dari masyarakat untuk mengubah kesadaran akan label ramah lingkungan menjadi tindakan nyata. Tanggapan dari para peserta menunjukkan bahwa para pemangku kepentingan mengharapkan inisiatif lanjutan tidak hanya sebatas berbagi pengetahuan, melainkan berkembang menjadi kebijakan, program bisnis, dan program masyarakat yang konkret.
Salah satu rekomendasi utama adalah dukungan kebijakan dan kerangka kelembagaan yang lebih kuat. Para peserta menyerukan kerja sama dengan kementerian, lembaga pemerintah, dan pemerintah daerah untuk meresmikan dan melembagakan penerapan label ramah lingkungan, termasuk proyek percontohan di wilayah-wilayah terpilih. Mereka juga mengusulkan penyusunan ringkasan kebijakan yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan organisasi masyarakat sipil.
Para peserta juga menekankan pentingnya memperluas upaya pendidikan dan sosialisasi. Kegiatan lanjutan yang diusulkan meliputi webinar tambahan, kampanye kesadaran publik, program pelatihan khusus, serta inisiatif berbagi pengetahuan yang ditujukan kepada pelajar, akademisi, dan masyarakat setempat. Meningkatkan literasi mengenai konsumsi berkelanjutan dan pengelolaan sampah dipandang sebagai langkah krusial dalam mendorong perubahan perilaku jangka panjang.
Perubahan perilaku muncul sebagai tema utama lainnya. Para peserta menganjurkan dilaksanakannya kampanye publik yang lebih luas mengenai pemilahan sampah, pengomposan rumah tangga, dan gaya hidup berkelanjutan. Beberapa responden mengusulkan penerapan pendekatan pemasaran sosial untuk mendorong pola konsumsi yang ramah lingkungan.
Webinar tersebut juga menekankan harapan agar IESA memainkan peran yang lebih strategis dalam mendorong penerapan label ramah lingkungan di seluruh negeri. Para peserta mendesak asosiasi tersebut untuk memimpin kampanye nasional mengenai label ramah lingkungan dan konsumsi berkelanjutan, menyusun rencana aksi yang praktis, serta berperan sebagai jembatan yang menghubungkan lembaga pemerintah, peneliti, pelaku usaha, dan kelompok masyarakat.
Dari sudut pandang ekonomi, para peserta mengidentifikasi label ramah lingkungan sebagai alat potensial untuk meningkatkan daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Mereka menyerukan dilaksanakannya program-program yang membantu pelaku usaha memahami dengan lebih baik manfaat lingkungan dan komersial dari sertifikasi label ramah lingkungan, sekaligus mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan ke dalam kegiatan ekonomi dan pembangunan yang lebih luas.
Secara keseluruhan, masukan yang diterima mencerminkan harapan bersama bahwa label ramah lingkungan seharusnya tidak hanya sekadar alat informasi bagi konsumen. Para peserta memandang label ramah lingkungan sebagai bagian dari strategi Indonesia yang lebih luas untuk mempercepat aksi iklim, mendukung transisi yang adil, memperkuat pembangunan ekonomi hijau, serta membantu mewujudkan tujuan iklim dan pembangunan berkelanjutan negara ini. (nsh)
Foto banner: Rahime Gül/Pexels.com


