IEA gencarkan investasi EBT, tekan biaya di negara berkembang

Jakarta – Fatih Birol, Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), menyoroti stagnasi investasi energi terbarukan di negara-negara berkembang sejak 2015. Meskipun perkembangan global energi terbarukan hampir dua kali lipat, peningkatan tersebut terutama berasal dari China dan negara-negara maju.

Pada tonggak KTT iklim COP28 di Dubai, Uni Emirat Arab, International Energy Agency (IEA) mengambil sikap tegas untuk memastikan bahwa lembaga keuangan utama, termasuk Bank Dunia dan bank pembangunan regional, memberikan prioritas tinggi pada penurunan biaya investasi energi terbarukan di negara-negara berkembang.

Meskipun kesepakatan yang dihasilkan di COP28 bertujuan meningkatkan kapasitas energi terbarukan global hingga tiga kali lipat, belum terjadi kesepakatan konkret tentang bagaimana membiayai transisi energi di negara-negara berkembang.

Birol menekankan perlunya mencari mekanisme pengurangan risiko untuk memastikan arus modal yang cukup ke negara-negara berkembang. Sebagai contoh, modal yang diperlukan untuk berinvestasi dalam pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di negara berkembang saat ini mencapai empat kali lipat biaya di negara maju.

Kondisi ini menghambat daya tarik investasi di negara-negara berkembang, sehingga perkembangan energi terbarukan di sana mengalami hambatan serius.

“Dunia harus fokus pada menemukan cara untuk mengurangi risiko investasi ini dan memastikan modal dapat mengalir ke negara-negara berkembang,” kata Birol kepada Reuters.

Lebih lanjut, menurutnya, memberikan jaminan, menciptakan mekanisme pengurangan risiko, dan menyediakan pendanaan lunak harus menjadi prioritas utama bagi Bank Dunia, bank pembangunan regional, dan sektor keuangan.

Birol menegaskan bahwa saat ini dunia memiliki modal yang cukup untuk mengembangkan energi terbarukan secara global. Namun, dengan dukungan dan komitmen lembaga keuangan, potensi besar ini dapat diwujudkan lebih cepat dan efisien, mengakselerasi transisi menuju energi terbarukan di seluruh dunia.

Kesepakatan tanpa aksi nyata menjadi tantangan, dan IEA mendesak agar langkah konkret diambil untuk mendukung negara-negara berkembang dalam meraih potensi energi terbarukan mereka. (Hartatik)

Like this article? share it

More Post

Receive the latest news

Subscribe To Our Weekly Newsletter

Get notified about new articles