oleh: Nabiha Shahab

Agus Prasetyo, yang akrab disapa Miki, menempatkan seni bukan sekadar ekspresi estetika, melainkan medium yang tajam untuk membaca realitas sosial. Berangkat dari tradisi batik, ia mengolah teknik pewarnaan di atas kain menjadi bahasa visual yang kontemporer: penuh warna, simbolik, dan sering kali satir. Dalam praktiknya, batik tidak lagi berhenti sebagai warisan budaya, tetapi menjadi alat kritik. Sebuah “headline visual” yang menyuarakan kegelisahan zaman.
Perjalanan Miki sebagai perupa tidak lepas dari latar aktivismenya. Ia pernah terlibat sebagai relawan di organisasi lingkungan seperti Greenpeace dan WALHI Bali, pengalaman yang kemudian membentuk sensitivitas tematik dalam karyanya. Isu-isu ekologis, ketimpangan sosial, hingga absurditas politik menjadi bahan bakar utama dalam proses kreatifnya. Dalam konteks ini, karya-karyanya dapat dibaca layaknya laporan jurnalistik—namun disampaikan melalui simbol, warna, dan deformasi bentuk yang lebih emosional.
Bersama Hafida Akuwati Putri, Miki sempat menginisiasi pameran bertema “11 Tahun Perjalanan Merawat Ibu Bumi”, yang lahir dari empati terhadap krisis lingkungan dan sosial yang kian nyata. Walau tertunda pelaksanaannya karena mundurnya sponsor, pameran ini rencananya tidak hanya memamerkan karya, tetapi juga berupaya membangun ruang komunikasi antara seniman dan publik—menjadikan seni sebagai sarana edukasi sekaligus refleksi kolektif.

“Potret Negeri Ini”: Kritik yang dibatik
Salah satu karya terakhir Miki bersama Canting Gupita P, adalah karya berjudul “Potret Negeri Ini”. Pada lukisan batik di atas kain katun ini, Miki menyusun semacam kolase visual yang riuh dan penuh lapisan makna.

Figur-figur yang terdistorsi, warna-warna kontras, serta teks yang tersebar di permukaan kain menciptakan kesan chaos, merefleksikan kondisi sosial-politik yang tidak stabil. Elemen seperti aparat, simbol kekuasaan, hingga figur rakyat biasa hadir berdampingan, seolah tanpa hierarki yang jelas, menggambarkan kaburnya batas antara pelindung dan pelaku.
Dalam karya kolaboratif ini, proses kreatif berlangsung secara akrab sekaligus dialogis. Miki memulai dengan merumuskan ide besar dan narasi utama, yang kemudian diterjemahkan oleh Canting, anaknya yang berumur sembilan tahun, ke dalam bentuk visual melalui penggambaran beberapa karakter. Sketsa awal tersebut selanjutnya dikerjakan langsung oleh Canting dalam proses membatik, mencanting garis-garis gambar di atas kain sebagai fondasi karya. Miki kemudian menambahkan elemen teks yang sebagian lahir dari percakapan mereka berdua, menjadikan karya ini bukan hanya kolaborasi teknis, tetapi juga ruang berbagi gagasan lintas generasi. Dengan demikian, Potret Negeri Ini tidak hanya berbicara tentang kondisi sosial, tetapi juga tentang proses pewarisan cara melihat dan merespons dunia.
Deskripsi karya menegaskan pesan tersebut: “hutan yang ditebas demi tambang, lahan gambut yang dipaksa untuk ekspansi sawit”, serta lingkungan yang “digadaikan atas nama pertumbuhan.” Kritik ini tidak berdiri sendiri; ia terhubung dengan praktik korupsi yang dibungkus retorika “kepentingan rakyat.” Di sini, Miki tidak hanya menyoroti kerusakan ekologis, tetapi juga struktur kekuasaan yang memungkinkan kerusakan itu terjadi.
Yang paling kuat dari karya ini adalah pertanyaan yang tersisa: apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya? Kekhawatiran tentang masa depan menjadi benang merah, bahwa anak-anak mungkin tumbuh di negeri yang kehilangan makna “lestari”, terputus dari hubungan dengan alam dan empati sosial.

Seni sebagai “sumber berita” alternatif
Dalam lanskap media yang sering dibatasi oleh format, kepentingan, atau bahkan sensor, karya Miki menawarkan jalur alternatif: seni sebagai bentuk jurnalisme visual. Ia tidak menyajikan data atau kutipan, tetapi menghadirkan pengalaman, emosi, kemarahan, kegelisahan, yang sering kali lebih langsung terasa.
Batik, di tangan Miki, menjadi semacam arsip sosial. Setiap goresan malam dan warna bukan hanya dekorasi, tetapi narasi tentang ketimpangan, eksploitasi, dan harapan. Jika berita mencatat peristiwa, maka karya Miki menangkap suasana batin sebuah zaman.
Dengan demikian, Agus “Miki” Prasetyo tidak hanya berkarya sebagai seniman, tetapi juga sebagai pengamat sosial—bahkan, dalam banyak hal, sebagai “reporter” yang bekerja dengan kanvas dan canting.


