Jakarta — Indonesia tengah meningkatkan upaya untuk meningkatkan kecepatan dan akurasi sistem prediksi cuaca, dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meluncurkan platform berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk mengotomatiskan prediksi cuaca antariksa.
Dalam pernyataan pada Selasa, 12 Mei, BRIN menyatakan bahwa sistem yang dikenal sebagai Space Weather Intelligent Forecasting System (SWx AI) ini bertujuan untuk mengatasi tantangan yang telah lama dihadapi dalam layanan cuaca antariksa, yang sebagian besar masih dilakukan secara manual.
Layanan cuaca antariksa masih dilakukan secara manual, proses yang memakan waktu lama, dan hasil analisisnya bisa bervariasi, kata Tiar Dani, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Antariksa (PRA) BRIN. Ia mencatat bahwa para analis saat ini harus menafsirkan kumpulan data yang kompleks, hasil pemodelan, dan citra pengamatan matahari secara terpisah.
“SWx AI dirancang agar lebih aman dari kesalahan informasi atau ‘halusinasi AI’ dengan membatasi data yang dianalisis hanya pada rentang waktu tertentu, misalnya 24 hingga 72 jam terakhir, serta menggunakan aturan-aturan yang sudah ditentukan secara pasti dalam memprediksi dan menelaah kondisi Antariksa di Indonesia,” kata Tiar.
Sistem baru ini memanfaatkan kecerdasan buatan, khususnya large language model atau LLM, untuk secara otomatis mengumpulkan dan memproses data terbaru, menafsirkan hasil peramalan, serta menganalisis citra satelit tanpa memerlukan campur tangan manusia secara terus-menerus.
Cuaca antariksa, yang dipengaruhi oleh aktivitas matahari, dapat mengganggu operasi satelit, komunikasi, sistem GPS, dan bahkan jaringan listrik, sehingga ramalan yang tepat waktu dan andal menjadi semakin penting seiring dengan berkembangnya sistem digital dan infrastruktur di Indonesia.
BRIN menyatakan bahwa platform AI SWx diharapkan dapat berfungsi sebagai sistem peringatan dini yang lebih cepat dan efisien, guna mendukung para peneliti, pembuat kebijakan, dan masyarakat luas. Sistem ini terintegrasi ke dalam kerangka kerja Space Weather Information and Forecast Services (SWIFtS) dan diperkenalkan dalam sebuah seminar penelitian yang diselenggarakan oleh lembaga tersebut pada tanggal 13 Mei.
Upaya untuk meningkatkan akurasi prakiraan cuaca mendapat perhatian politik di tingkat tinggi. Presiden Prabowo Subianto telah menekankan pentingnya memperkuat sistem peringatan dini dan telah menanyakan kepada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai kebutuhan prioritas, termasuk kemungkinan pengembangan satelit cuaca nasional.
Pemerintah dorong peningkatan kualitas prakiraan cuaca
Langkah BRIN ini mencerminkan upaya pemerintah yang lebih luas untuk memperkuat kemampuan peramalan di berbagai sektor. Di sisi lain, BMKG sedang berupaya meningkatkan akurasi layanan cuaca maritim melalui integrasi data yang lebih erat dengan Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut, Pusidrosal.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan pada Kamis, 7 Mei, bahwa peningkatan informasi cuaca maritim sangat penting bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, terutama untuk mendukung keselamatan pelayaran, mitigasi bencana, dan keamanan nasional.
BMKG juga terus mengembangkan peramalan berbasis dampak, yang mengaitkan prakiraan cuaca dengan potensi dampak di lapangan, seperti banjir atau tanah longsor, alih-alih hanya melaporkan kondisi meteorologi semata.
Meskipun telah memiliki akses ke jaringan satelit internasional, BMKG menyatakan bahwa Indonesia masih perlu memperluas infrastruktur radar di dalam negeri serta mengintegrasikan data meteorologi, hidrologi, dan oseanografi guna meningkatkan akurasi prakiraan, terutama di wilayah pesisir dan pelayaran.
Secara bersama-sama, inisiatif yang diluncurkan oleh BRIN dan BMKG menandakan upaya terkoordinasi untuk memodernisasi sistem informasi cuaca dan iklim Indonesia — mulai dari ruang angkasa hingga wilayah maritim — seiring upaya negara ini untuk membangun kemampuan peringatan dini yang lebih responsif dan andal. (nsh)
Foto banner: Zelch Csaba/Pexels.com


