PBB desak percepatan peralihan ke energi bersih di tengah “kekacauan biaya” bahan bakar fosil

Jakarta — Kepala UNFCCC menyerukan transisi global yang cepat ke energi terbarukan, sambil memperingatkan bahwa ketergantungan yang terus-menerus pada bahan bakar fosil memicu ketidakstabilan dan ketidakamanan ekonomi.

Dalam sambutan video pada acara Green Transformation (GX) Week di Yeosu, Republik Korea, hari Senin, 20 April, Sekretaris Eksekutif Simon Stiell mengatakan, “Energi bersih adalah solusi untuk mengatasi gejolak harga bahan bakar fosil, karena energi bersih lebih murah, lebih aman, dan lebih cepat dipasarkan.”

Pernyataannya itu muncul di tengah ketegangan geopolitik yang mengganggu pasar energi global, sehingga memperlihatkan kelemahan dalam rantai pasokan bahan bakar fosil. “Perang telah—sekali lagi—mengungkapkan melonjaknya biaya akibat ketergantungan pada bahan bakar fosil,” katanya, sambil mencatat bahwa konflik dapat menghambat perekonomian dan menaikkan biaya bagi rumah tangga dan pelaku usaha.

Sebaliknya, Stiell menyoroti ketangguhan energi terbarukan. “Perang tidak mengganggu pasokan sinar matahari untuk tenaga surya, dan tenaga angin tidak bergantung pada jalur pelayaran yang rentan,” katanya, sambil menambahkan bahwa energi terbarukan memungkinkan pemerintah untuk “mendapatkan kembali kendali atas perekonomian dan keamanan nasional mereka.”

Ia mendesak negara-negara untuk mempercepat transisi ke energi bersih sambil menghindari ketergantungan baru pada bahan bakar fosil, terutama batu bara, meskipun mereka sedang menangani krisis energi jangka pendek. Tindakan iklim yang tegas, katanya, akan menjadi kunci daya saing ekonomi seiring meningkatnya permintaan akan solusi rendah karbon.

“Pasar untuk solusi iklim akan terus berkembang. Semua negara dengan ekonomi terbesar di Asia telah menunjukkan bahwa energi bersih kini menjadi inti dari strategi pertumbuhan ekonomi dan keamanan mereka,” kata Stiell.

Acara GX Week diselenggarakan bersamaan dengan Pekan Iklim PBB, yang mempertemukan para pembuat kebijakan, pelaku bisnis, dan masyarakat sipil untuk mendorong solusi iklim yang praktis serta mewujudkan komitmen global menjadi tindakan nyata di lapangan.

“Pekan Iklim PBB hanyalah salah satu cara yang kami lakukan untuk membantu mewujudkan keputusan dan janji-janji COP menjadi hasil konkret di masyarakat, sehingga proses kami semakin mendekati perekonomian nyata,” kata Stiell. (nsh)

Foto banner: Kepala UNFCCC Simon Stiell menutup COP30 di Belem, Brasil. 22 November 2025. Sumber: UN Climate/Kiara Worth

Like this article? share it

More Post

Receive the latest news

Subscribe To Our Weekly Newsletter

Get notified about new articles