Badan Geologi: Penurunan muka tanah pesisir Demak 5 sampai11 cm per tahun

Semarang – Meski terjadi penurunan muka tanah yang signifikan di sepanjang pesisir Demak, Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Muhammad Wafid, menegaskan bahwa spekulasi mengenai kemungkinan terbentuknya kembali Selat Muria yang telah menghilang sekitar 300 tahun yang lalu tidaklah realistis.

Selat Muria adalah selat yang memisahkan Pulau Jawa dengan Pulau Muria, sebuah daratan di sekitar Gunung Muria, Jawa Tengah, yang sekitar tiga abad lalu terpisah dari daratan Pulau Jawa. Selat yang terletak antara Semarang dan Rembang tersebut berangsur menyempit karena tumpukan sedimentasi dan kemudian bersatu dengan daratan Jawa.

Wafid menekankan bahwa meskipun penurunan muka tanah per tahun cukup besar, faktor-faktor geologi yang diperlukan untuk pembentukan kembali Selat Muria sangatlah kompleks dan tidak terbatas hanya pada penurunan tanah.

“Di daerah pesisir Demak kecepatan land subsidence diperkirakan berkisar 5 sampai11 cm/tahun. Beberapa tempat di daerah pesisir memiliki elevasi yang lebih rendah dibanding muka air laut, sehingga bila terjadi banjir rob akan menjorok jauh masuk ke daratan. Meski terjadi penurunan tanah di daerah Demak dan sekitarnya, Selat Muria bukan berarti akan terbentuk kembali dalam waktu dekat. Banjir saat ini yang lama surut, lebih dipengaruhi oleh iklim yakni curah hujan yang tinggi, adanya kerusakan infrastruktur,” tegas Wafid dalam keterangan resmi, Senin, 25 Maret.

Wafid mengklarifikasi bahwa selain dari penurunan muka tanah, faktor-faktor lain seperti struktur tanah di bawah permukaan serta perubahan iklim yang mengakibatkan kenaikan muka air laut juga harus dipertimbangkan dalam konteks ini. Menurutnya, Selat Muria tidak akan terbentuk kembali kecuali melalui proses geologi yang ekstrem, seperti gempa bumi tektonik yang sangat besar.

“Secara teori, Selat Muria mungkin saja terbentuk kembali, yakni apabila terjadi proses geologi yang dahsyat, misalnya terjadinya gempa bumi tektonik berkekuatan sangat besar yang menyebabkan terjadinya amblasan tiba-tiba (graben) dan mencakup areal yang luas,” jelas Wafid.

Namun, menurut penelitian Badan Geologi, meskipun ada penurunan muka tanah yang signifikan di beberapa daerah pesisir, hal tersebut tidaklah cukup untuk secara langsung menyebabkan pembentukan kembali Selat Muria. Wafid menambahkan bahwa proses tersebut akan memakan waktu yang sangat lama, bahkan dalam skala waktu geologi, membutuhkan penurunan muka tanah yang seragam dari Demak hingga Pati.

“Fakta di lapangan berdasarkan penelitian Badan Geologi memperlihatkan terdapat perbedaan kecepatan penurunan tanah, dimana pada daerah pesisir lebih cepat dibanding daratan. Beberapa perkiraan faktor dominan kemungkinan akan kembali terbentuknya Selat Muria adalah terjadinya penurunan muka tanah yang besar yang juga disertai kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim serta terganggunya pola aliran sungai karena elevasi daratan lebih rendah dibanding muka air laut,” pungkas Wafid. (Hartatik)

Gambar banner: Gunawan Kartapranata (original author)/Wikimedia commons, CC BY-SA 3.0, 

Like this article? share it

More Post

Receive the latest news

Subscribe To Our Weekly Newsletter

Get notified about new articles