Indonesia kaji penggunaan CNG untuk tekan impor LPG, tingkatkan kemandirian energi

Jakarta – Indonesia sedang meninjau perluasan penggunaan gas alam terkompresi (CNG) sebagai alternatif energi dalam negeri guna mengurangi ketergantungan pada gas elpiji (LPG) impor, demikian disampaikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada Senin, 27 April.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa usulan tersebut masih dalam pembahasan dan diperkirakan akan segera diselesaikan sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperkuat kemandirian energi nasional.
“Sekarang lagi masih dalam pembahasan, yang tadi saya laporkan, adalah kita membuat CNG. Tapi ini masih dalam pembahasan, saya harus finalisasi, dan ini salah satu alternatif terbaik untuk kita mendorong agar kemandirian energi kita di sektor LPG bisa dapat kita lakukan,” kata Bahlil setelah rapat kabinet terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara pada hari Senin.

Saat ini, Indonesia mengonsumsi sekitar 8,6 juta ton LPG per tahun, di mana hanya sekitar 1,6–1,7 juta ton yang diproduksi di dalam negeri, sehingga sebagian besar sisanya dipenuhi melalui impor.

Bahlil mengatakan bahwa CNG dapat diperoleh dari gas alam dalam negeri, khususnya metana (C1) dan etana (C2), yang dikompresi pada tekanan 250–400 bar agar dapat disimpan dan didistribusikan secara efisien. Indonesia memiliki 57 badan usaha yang bergerak di sektor perdagangan CNG.

CNG sudah digunakan di berbagai sektor, termasuk hotel, restoran, dan beberapa stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG), dengan bahan baku yang sepenuhnya dipasok dari sumber dalam negeri. Pemerintah berupaya memperluas penggunaannya sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk memprioritaskan sumber daya energi lokal.

“Di era geopolitik yang tidak menentu, kita harus mencari formulasi untuk mencapai survival mode. Semua produksi yang ada di dalam negeri, itu yang kita prioritaskan,” kata Bahlil.

Inisiatif CNG merupakan bagian dari strategi diversifikasi energi Indonesia yang lebih luas, yang mencakup peningkatan produksi minyak dan gas, perluasan penggunaan bahan bakar nabati seperti B50, serta eksplorasi alternatif pengganti LPG, termasuk dimetil eter (DME), seiring upaya negara ini untuk memperkuat ketahanan terhadap guncangan energi global. (nsh)

Foto banner: Pertamina melakukan uji coba penggunaan LNG cair sebagai bahan bakar truk angkutan CNG di Jawa, Januari 2023. (Sumber: Subholding Gas Pertamina)

Like this article? share it

More Post

Receive the latest news

Subscribe To Our Weekly Newsletter

Get notified about new articles