Permintaan melonjak, keamanan energi ASEAN bergantung pada kerja sama regional

oleh Roffie Kurniawan

Jakarta — Kerja sama energi di antara negara-negara Asia Tenggara semakin mendesak karena permintaan energi regional diproyeksikan tumbuh sebesar 4,2% per tahun hingga tahun 2060, sementara gangguan geopolitik, ladang minyak dan gas yang semakin menua, serta meningkatnya biaya investasi mengancam keandalan dan keterjangkauan pasokan.

ASEAN Centre for Energy (ACE), dalam laporan berjudul “ASEAN Energy Investment 2026” yang terbit awal bulan ini, memperkirakan bahwa permintaan energi regional akan mencapai sekitar 2,047 miliar ton setara minyak pada tahun 2060. Konsumsi listrik tumbuh bahkan lebih cepat daripada permintaan energi secara keseluruhan, didorong oleh aktivitas industri, penggunaan pendingin udara, elektrifikasi transportasi, infrastruktur digital, serta perluasan kapasitas pusat data.

Berbagai tekanan ini menjadi sorotan utama dalam pertemuan ke-51 ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) di Bali, di mana sekitar 300 perwakilan dari 11 negara berkumpul pada 26–28 Oktober untuk membahas cara memperkuat keamanan energi regional.

Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, mengatakan bahwa kerja sama sangat penting untuk memastikan sistem energi dapat memenuhi kebutuhan saat ini sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi dan generasi mendatang.

“Kekuatan komunitas energi regional kita tidak terletak pada upaya menjadikan setiap negara sama, melainkan pada upaya memberdayakan setiap negara agar dapat menyumbangkan keunggulan dan kemampuannya masing-masing demi mencapai tujuan bersama,” kata Simon dalam pertemuan ASCOPE pada Senin, 26 Oktober.

Pembahasan tersebut berlangsung di tengah gangguan pasokan minyak global pada tahun 2026, yang menyoroti kerentanan Asia Tenggara terhadap guncangan pasar internasional. Konflik di Timur Tengah dan gangguan di sekitar Selat Hormuz, yang merupakan rute utama pengiriman minyak dan gas global, telah memicu kekhawatiran terkait ketersediaan bahan bakar, harga, serta biaya untuk menjamin pasokan.

Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, mengatakan bahwa negara-negara ASEAN perlu mengoordinasikan upaya untuk melindungi pasokan energi regional. Pembahasan di Bali mencakup minyak mentah, bensin, gas elpiji (LPG), dan gas alam cair (LNG), termasuk peluang untuk memperoleh pasokan produk dari negara-negara yang memiliki kelebihan kapasitas penyulingan.

Pertemuan tersebut juga membahas kerja sama dengan Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan melalui kerangka kerja ASEAN+3.

Permintaan, ketergantungan impor meningkat

Besarnya permintaan di masa depan menjadi tantangan besar bagi pemerintah-pemerintah ASEAN. Seiring dengan berkembangnya industrialisasi, urbanisasi, dan infrastruktur digital, negara-negara tersebut perlu memastikan ketersediaan pembangkit listrik tambahan sambil meningkatkan jaringan transmisi dan menjaga agar pasokan listrik tetap terjangkau.

Kawasan ini masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Menurut ACE, batu bara dan gas menyumbang sekitar 71% dari pembangkitan listrik ASEAN pada tahun 2024, sementara energi terbarukan menyumbang sekitar 28%. Energi terbarukan hanya menyumbang 14,1% dari total pasokan energi primer pada tahun tersebut, jauh di bawah target kawasan sebesar 30% pada tahun 2030 sebagaimana tercantum dalam Rencana Aksi ASEAN untuk Kerja Sama Energi 2026–2030.

Ketergantungan pada impor semakin menambah risiko. Sekitar 17% pasokan gas alam ASEAN berasal dari Timur Tengah, dan ACE memperkirakan kawasan ini akan menjadi importir gas bersih dalam beberapa tahun mendatang.

Gangguan pasokan pada tahun 2026 juga telah memperlihatkan konsekuensi ekonomi dari kerawanan energi. ACE memperingatkan bahwa kenaikan biaya bahan bakar dapat menambah tekanan pada keuangan publik, terutama karena pemerintah berupaya melindungi konsumen dan pelaku usaha dari guncangan harga.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa sebelum terjadinya gangguan, dukungan terhadap bahan bakar fosil di kawasan tersebut diperkirakan mencapai 40 miliar dolar AS, dengan pengeluaran yang diperkirakan akan terus meningkat. Dukungan semacam itu dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah untuk berinvestasi dalam infrastruktur energi, yang berpotensi menunda proyek-proyek yang diperlukan untuk memenuhi permintaan di masa depan.

Energi terbarukan perlu pendekatan regional

Memperluas penggunaan energi terbarukan merupakan kunci untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor, namun transisi ini tidak hanya sekadar membangun pembangkit listrik tenaga surya dan angin.

Energi surya dan angin hanya menyumbang sekitar 4,5% dari total pembangkitan listrik di ASEAN pada tahun 2023. Peta Jalan Jangka Panjang Energi Terbarukan ASEAN memperkirakan pangsa keduanya akan meningkat menjadi 19%–23% pada tahun 2030.

Untuk mencapai peningkatan tersebut, kawasan ini perlu meningkatkan kapasitas pembangkit energi terbarukan variabel sekitar empat hingga lima kali lipat dalam satu dekade ke depan, kata ACE. Hal ini akan membutuhkan investasi besar-besaran, tidak hanya dalam kapasitas pembangkit, tetapi juga dalam jaringan listrik, penyimpanan baterai, fleksibilitas sistem, dan interkoneksi lintas batas.

Kerja sama regional dapat membantu negara-negara memanfaatkan berbagai sumber daya energi secara lebih optimal. Jaringan Listrik ASEAN, misalnya, bertujuan untuk memperkuat koneksi listrik antarsistem nasional, sehingga membuka peluang untuk perdagangan listrik lintas batas dan meningkatkan fleksibilitas pasokan.

Negara-negara yang memiliki kelebihan pasokan listrik tenaga air atau listrik terbarukan berpotensi memasok pasar di negara tetangga, sementara jaringan listrik yang saling terhubung dapat membantu menyeimbangkan fluktuasi dalam pembangkitan listrik tenaga surya dan angin. Integrasi regional yang lebih erat juga dapat mengurangi kebutuhan masing-masing negara untuk mengembangkan seluruh infrastruktur yang diperlukan guna memenuhi permintaan puncaknya secara mandiri.

Namun, untuk mewujudkan hal ini, diperlukan kesepakatan mengenai perdagangan listrik lintas batas, tanggung jawab investasi, standar teknis, dan kerangka regulasi. Pembangunan infrastruktur juga harus sejalan dengan meningkatnya permintaan.

Biaya investasi ancam proses transisi

Pembiayaan tetap menjadi hambatan utama lainnya. ACE menyatakan bahwa biaya modal untuk proyek-proyek energi bersih di Asia Tenggara sekitar dua kali lipat dibandingkan dengan negara-negara maju, bahkan sebelum terjadinya gangguan pada tahun 2026. Tekanan inflasi yang berasal dari kenaikan harga energi berpotensi mendorong kenaikan suku bunga, sehingga membuat proyek-proyek tersebut menjadi lebih mahal.

Kendala rantai pasokan juga mempersulit proses pengembangan. Waktu tunggu global untuk trafo dan komponen jaringan listrik lainnya kini memakan waktu hingga beberapa tahun, sehingga menunda pengoperasian proyek dan mengurangi tingkat pengembalian investasi.

ACE merekomendasikan agar pemerintah mempertimbangkan untuk mengalihkan sebagian subsidi bahan bakar fosilnya ke jaringan listrik, penyimpanan energi, dan efisiensi energi. Pergeseran tersebut dapat membantu memperluas investasi infrastruktur tanpa perlu meminjam dana tambahan, sekaligus meningkatkan kemampuan sistem energi dalam mengelola gangguan pada permintaan dan pasokan.

Selain energi terbarukan, ASEAN harus mengatasi tantangan dalam mempertahankan produksi minyak dan gas dalam negeri. Banyak ladang minyak dan gas telah beroperasi selama puluhan tahun, sehingga memerlukan investasi tambahan untuk mempertahankan tingkat produksi, sementara eksplorasi baru diperlukan untuk mengidentifikasi sumber daya di masa depan.

Sekretaris Pelaksana ASCOPE, Henricus Herwin, mengatakan bahwa negara-negara di kawasan ini menghadapi kesulitan serupa dalam mempertahankan produktivitas dan kelayakan komersial aset minyak dan gas yang sudah tua, menarik investasi eksplorasi, serta melakukan dekomisioning secara aman terhadap fasilitas yang telah mencapai akhir masa operasinya.

“Dengan berbagi bukti, data, dan pengalaman di dalam ASCOPE, kita dapat membantu setiap anggota mengambil keputusan yang lebih baik terkait asetnya serta mengubah pengetahuan regional menjadi hasil yang nyata,” kata Henricus.

Satuan Tugas Eksplorasi dan Produksi (EPTF) forum ini menyediakan wadah bagi para pelaku industri dan pihak regulator untuk bertukar pengalaman operasional, mendiskusikan masalah-masalah bersama, serta meningkatkan perencanaan.

Pertamina juga menyerukan adanya pengaturan fiskal dan insentif yang lebih menarik guna mendorong investasi di sektor hulu minyak dan gas, infrastruktur, serta energi terbarukan.

Perusahaan tersebut menyoroti potensi Indonesia untuk memproduksi lebih dari 200 juta kaki kubik standar per hari (mmscfd) biometana dari limbah cair, yang menawarkan peluang untuk mengembangkan energi rendah karbon sekaligus memanfaatkan sumber daya limbah secara produktif.

Mengubah kerja sama menjadi hasil nyata

Tantangan bagi ASCOPE dan pemerintah-pemerintah ASEAN adalah mewujudkan dialog regional menjadi proyek dan kesepakatan yang memberikan manfaat yang dapat diukur.

Hal ini berarti meningkatkan koordinasi dalam hal pasokan bahan bakar darurat, menarik investasi di bidang produksi minyak dan gas, mempercepat pengembangan energi terbarukan, serta memperluas infrastruktur kelistrikan lintas batas. Hal ini juga membutuhkan kerja sama yang lebih erat dalam hal efisiensi energi, penyimpanan, keahlian teknis, dan pembiayaan.

Kerja sama regional tidak akan menghilangkan risiko geopolitik atau perbedaan antara kebijakan energi nasional. Namun, hal itu dapat membantu negara-negara mendiversifikasi sumber pasokan, berbagi biaya infrastruktur, dan memanfaatkan sumber daya regional secara lebih efisien.

Dengan proyeksi pertumbuhan permintaan energi sebesar 4,2% per tahun hingga tahun 2060, ASEAN menghadapi kesenjangan yang semakin melebar antara ambisi energinya dan investasi yang diperlukan untuk mewujudkannya. Kemampuan ASEAN dalam mengoordinasikan kebijakan, pembiayaan, dan pembangunan infrastruktur akan semakin menentukan apakah kawasan ini dapat memastikan ketersediaan energi yang andal dan terjangkau sekaligus mempercepat transisinya menuju ekonomi rendah karbon.

Foto banner: Gambar dibuat menggunakan DALL·E dari OpenAI melalui ChatGPT (2025)

Like this article? share it

More Post

Receive the latest news

Subscribe To Our Weekly Newsletter

Get notified about new articles