Belajar perubahan iklim ke Negeri Cina

oleh: Tara Indira Aisha Abdullah*

Pemanfaatan bahkan eksploitasi sumber daya alam sering kali bersifat merusak dan dilakukan secara tidak terkendali. Kegiatan seperti pertambangan maupun penebangan hutan telah secara signifikan mengganggu bahkan mengancam lapisan kehidupan di Bumi ini. Perubahan iklim merupakan ancaman berjangka panjang yang terjadi di Bumi akibat kegiatan-kegiatan manusia. Berbagai pengaruh yang mencakup aspek-aspek biologi, kimia dan fisika ini mengancam seluruh lapisan kehidupan di Bumi dan bahkan menimbulkan dampak sosial dan ekonomi. Diperlukan upaya penyadaran dan pelibatan konkret para pihak, termasuk orang muda, untuk menghadapi bencana yang perlahan tapi pasti ini (slow onset disaster).

Bahaya gas rumah kaca

Berbagai kegiatan dari sektor industri serta perusakan ekosistem telah meningkatkan gas rumah kaca (GRK) yang berkontribusi terhadap pemanasan global. GRK ini terdiri atas senyawa tertentu seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dinitrogen oksida, serta berbagai senyawa fluor. GRK inilah yang memerangkap panas matahari dalam atmosfer bumi sehingga mengakibatkan pemanasan global di bumi dan atmosfernya.

Menurut IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change, badan ilmiah di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bertugas menilai ilmu pengetahuan terkait perubahan iklim), GRK merupakan gas-gas di atmosfer yang menyerap dan memancarkan radiasi inframerah. Gas-gas ini dapat berasal dari alam atau aktivitas manusia.

Peningkatan suhu telah mengganggu pola cuaca dan iklim, menyebabkan cuaca ekstrem seperti badai, kekeringan, dan hujan lebat tidak menentu. Selain itu, pemanasan global juga berkontribusi terhadap mencairnya es di kutub, yang mengarah pada naiknya permukaan air laut hingga menyebabkan kenaikan muka laut di pesisir dunia secara tidak wajar.

Menurut laporan Assessment Report 6 – AR 6 (IPCC, 2020) cuaca ekstrem, yang mengancam ketahanan pangan, mata pencaharian, dan ekosistem di seluruh dunia, saat ini telah semakin memprihatinkan.

AR6 IPCC menegaskan bahwa kenaikan suhu sebesar 2°C akan menyebabkan perubahan besar dalam sistem iklim Bumi dan memperburuk dampak yang sudah terasa terutama bagi manusia dan keanekaragaman hayati. Namun, jika suhu dapat dibatasi pada 1,5°C, dampak-dampak tersebut bisa lebih ringan. Oleh karena itu, pengurangan emisi gas rumah kaca yang cepat dan signifikan sangat penting untuk membatasi kerusakan lebih lanjut. Sayangnya bumi telah melampaui batas 1,5°C (World Meteorological Organization, 2024)

Dampak perubahan iklim

Perubahan iklim, selain merusak ekosistem, juga mengurangi jumlah dan kualitas sumber daya alam yang memberi kita penghidupan. Termasuk dalam dampak perubahan iklim adalah kekurangan air bersih, kerusakan pertanian, dan munculnya banyak penyakit baru yang mengancam keberlangsungan hidup umat manusia dan lingkungannya. Menurut Hsiang dkk. (2013), perubahan iklim bahkan berperan penting dalam meningkatkan konflik sosial di Bumi.

Tanaman dan hewan juga sulit beradaptasi dengan perubahan suhu cuaca dan mereka terancam kehilangan habitatnya. Peran berbagai spesies dalam ekosistem dan jaring makanan menjadi terkendala.

Kurangnya pengetahuan masyarakat umum

Banyak orang yang menyepelekan perubahan iklim. Akibatnya, kurang ada usaha untuk kembali mencegahnya ketika masih ada kesempatan. Sebagai contoh, penebangan hutan dan penanaman sawit tak terkendali telah menimbulkan banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat di akhir November 2025. Semuanya adalah kepentingan keuangan jangka pendek bagi segelintir pengusaha yang ternyata mengabaikan kepentingan ekonomi jangka panjang bagi masyarakat luas.

Berdasarkan analisis Bank Indonesia (2022), dalam jangka panjang kerugian ekonomi akibat perubahan iklim bisa mencapai angka yang mengejutkan, yaitu hingga 40% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Jika tidak ada tindakan mitigasi dan adaptasi yang berarti, maka kerugian akibat bencana iklim ini akan tercapai pada tahun 2050.

Berbagai bencana hidrometeorologi (banjir dan kekeringan) yang merupakan aspek penting dari ancaman perubahan iklim ini memerlukan partisipasi dari generasi muda sekarang. Sebabnya, generasi muda akan mewarisi dampak, namun memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan jangka panjang. Generasi muda perlu dibiasakan dan diedukasi lebih.

Kesungguhan riset iklim di Negeri Tiongkok

Di penghujung 2024, penulis berkesempatan melakukan kunjungan belajar ke Chinese Academy of Sciences (CAS) di Beijing, Cina, untuk mendalami riset perubahan iklim berjangka panjang. CAS merupakan akademi nasional ilmu alam terkemuka di Cina yang berada di distrik Xicheng, Beijing. CAS mengelola lebih dari 100 institut yang menghasilkan penemuan penting di bioteknologi, fisika, dan material baru.

CAS dikenal dengan keunggulan akademik. Anggota-anggota CAS menerima penghargaan bergengsi, termasuk Penghargaan Nobel. Lembaga ini juga memiliki kemitraan internasional yang kuat dan berperan penting dalam inovasi teknologi, termasuk energi terbarukan, teknologi informasi, dan eksplorasi luar angkasa.

Chinese Academy of Sciences memiliki Pusat Penelitian Perubahan Iklim (CCRC), yang merupakan bagian dari Institut Fisika Atmosfer yang berfokus pada penelitian perubahan iklim secara menyeluruh. CCRC meneliti strategi adaptasi dan mitigasi, seperti pengurangan emisi karbon dan peningkatan ketahanan terhadap bencana iklim. Bahkan melalui kerja sama penelitian internasional, CCRC berupaya meningkatkan pemahaman global tentang perubahan iklim dan mencari solusi ilmiah untuk diterapkan secara luas.

CAS juga memiliki Institute of Geographical Sciences and Natural Resources Research (IGSNRR) yang melakukan riset lintas disiplin dengan sangat canggih. Termasuk di dalamnya adalah perlindungan ekologi, penggunaan lahan, sistem informasi geografis. Kerja sama lintas disiplin ini dimaksudkan untuk menangani berbagai tantangan seperti perubahan iklim, ketahanan air, dan ketahanan pangan.

Penelitian Chinese Academy of Sciences

Penelitian dari Chinese Academy of Sciences menunjukkan bahwa ekosistem darat seperti hutan, padang rumput, dan lahan pertanian memiliki peran penting sebagai penyerap karbon (carbon sink). Melalui pemantauan jangka panjang dan analisis data ekologi, para peneliti menemukan bahwa kemampuan ekosistem dalam menyimpan karbon dapat ditingkatkan melalui pengelolaan lahan yang berkelanjutan, restorasi hutan, serta perlindungan keanekaragaman hayati.

Dalam memantau sistim Bumi CAS bahkan telah mempelajari transport debu Asia. Ternyata, debu mineral dari wilayah kering berperan penting dalam menghubungkan proses darat–laut–atmosfer. Setiap tahun, lebih dari empat miliar ton debu dilepaskan ke atmosfer global. Unsur hara seperti besi dan fosfor yang dapat meningkatkan produktivitas fitoplankton disirkulasikan ke lautan. Fenomena ini memperkuat penyerapan karbon melalui proses yang dikenal sebagai pemompaan biologis.

Penelitian CAS juga mempelajari bagaimana perubahan penggunaan lahan, penggurunan dan pemanasan global dapat mengubah frekuensi badai debu serta jalur transportnya. Transportasi ini berdampak pada keseimbangan nutrisi laut dan sistem iklim regional bahkan global. Fakta menariknya, debu dari Asia Timur dapat menempuh ribuan kilometer melintasi Samudra Pasifik. Ini menunjukkan betapa terhubungnya sistem iklim Bumi.

Begitu banyak fenomena baru terjadi akibat perubahan iklim. Banyak hal dapat dilakukan oleh generasi muda untuk perubahan iklim. Aksi nyata sehari-hari yang dapat dilakukan, misalnya, dengan hemat energi, mengembangkan dan menggunakan transportasi dengan energi terbarukan, penanaman pohon dalam jumlah besar, menjalankan pola makan ramah lingkungan dan berkelanjutan, menggunakan media sosial untuk membangun kesadaran bersama, dan edukasi dan kampanye sosial melalui media kreatif berbagi ilmu lintas generasi.

Lebih dari itu, generasi muda dapat mengembangkan kemampuannya melakukan penelitian perubahan iklim. Dan kalau perlu belajar ke negeri Cina.

*Penulis adalah pelajar kelas 11 SMA Negeri I Bogor

Foto banner: Gambar dibuat menggunakan DALL·E dari OpenAI melalui ChatGPT (2024)

Like this article? share it

More Post

Receive the latest news

Subscribe To Our Weekly Newsletter

Get notified about new articles