WHO puji kepemimpinan Indonesia dalam menangani risiko penyakit zoonosis

Jakarta — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memuji kepemimpinan Indonesia dalam mengurangi risiko penyakit zoonosis melalui pendekatan One Health yang diperkuat, dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Sedunia.

Dalam pernyataan pada Selasa, 7 April, WHO menyoroti kemajuan Indonesia dalam mengintegrasikan upaya-upaya di bidang kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan guna meningkatkan upaya pencegahan, deteksi, dan penanggulangan penyakit zoonosis. Pendekatan ini, yang dipimpin oleh pemerintah dan didukung oleh WHO serta para mitra, telah memperluas koordinasi lintas sektor di antara lembaga-lembaga di bidang kesehatan, pertanian, kedokteran hewan, dan lingkungan.

“Indonesia menunjukkan cara aksi multisektoral yang terkoordinasi dapat mengurangi risiko kita dari penyakit zoonosis,” kata Perwakilan WHO untuk Indonesia, N. Paranietharan, sambil menyoroti peningkatan dalam sistem deteksi dini dan respons.

Penyakit zoonosis, atau penyakit yang menular antara hewan dan manusia, tetap menjadi ancaman kesehatan global yang serius, yang mencakup lebih dari 60 persen penyakit menular yang diketahui dan hingga 75 persen penyakit baru yang muncul. Kerentanan Indonesia semakin meningkat akibat bencana terkait iklim, perubahan lingkungan, serta interaksi yang erat antara manusia dan hewan di seluruh wilayah kepulauan.

Upaya nasional telah difokuskan pada penyakit-penyakit prioritas, termasuk flu burung, leptospirosis, antraks, dan rabies. Pada tahun 2025, WHO mendukung program percontohan untuk pengawasan terpadu flu burung di lima provinsi, dengan memanfaatkan pasar unggas tradisional sebagai lokasi peringatan dini. Sistem pengawasan dan respons yang diperkuat untuk leptospirosis juga telah berkontribusi pada penurunan angka kematian di daerah rawan banjir, sementara inisiatif terkait antraks dan rabies berfokus pada pelatihan petugas garis depan, pengelolaan kasus, dan peningkatan kesadaran masyarakat.

Kemajuan yang dicapai Indonesia mencerminkan meningkatnya perhatian global terhadap pendekatan One Health di tengah meningkatnya risiko akibat perubahan iklim dan penyakit-penyakit baru. Negara ini diharapkan dapat menunjukkan kepemimpinannya pada KTT One Health yang akan datang, di mana para kepala negara dan menteri akan berupaya mewujudkan komitmen politik menjadi tindakan terkoordinasi.

Momentum ini akan berlanjut dalam Forum Global Pusat-Pusat Kolaborasi WHO, yang menegaskan pentingnya investasi berkelanjutan di bidang ilmu pengetahuan dan sistem kesehatan. Saat ini, Indonesia menjadi tuan rumah bagi dua pusat kolaborasi tersebut, yang berfokus pada keperawatan dan kebidanan, serta pencegahan ketulian dan gangguan pendengaran.

WHO menyatakan bahwa pengalaman Indonesia menunjukkan bagaimana kerja sama berbasis ilmu pengetahuan dapat menghubungkan tindakan lokal dengan solusi kesehatan di tingkat regional dan global. (nsh)

Foto banner: Tim gabungan Kementerian Kesehatan RI–WHO melakukan surveilans di pasar unggas di Surabaya sebagai bagian dari program percontohan di lima provinsi pada tahun 2025. Kredit: WHO/Fieni Aprilia

Like this article? share it

More Post

Receive the latest news

Subscribe To Our Weekly Newsletter

Get notified about new articles