Menteri ESDM: RI surplus 1,4 juta kl B40, siap stop impor solar tahun ini

Jakarta – Pemerintah mengatakan bahwa saat ini Indonesia menuju swasembada solar setelah penerapan mandatori biodiesel B40 menghasilkan kelebihan pasokan di dalam negeri. Kondisi ini disebut menjadi modal utama bagi Indonesia untuk menghentikan impor solar lebih cepat dari rencana awal.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Kamis, 22 Januari, mengungkapkan bahwa kombinasi antara peningkatan mandatori biodiesel dan penguatan kapasitas kilang nasional telah mendorong neraca solar nasional ke posisi surplus. Salah satu faktor penentunya adalah beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan milik PT Pertamina (Persero).

“Kalau kita lihat akumulasi konsumsi dan produksi B40 saat ini, dengan dukungan RDMP Balikpapan, posisi kita sudah kelebihan pasokan sekitar 1,4 juta kiloliter,” kata Bahlil pada Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI.

Surplus tersebut muncul seiring realisasi pemanfaatan biodiesel yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sejak penerapan B30 pada 2021 hingga B35 pada 2024, konsumsi biodiesel konsisten naik. Puncaknya terjadi pada 2025, saat mandatori B40 diterapkan penuh dan realisasi pemanfaatan biodiesel domestik mencapai 14,2 juta kiloliter atau melampaui target yang ditetapkan pemerintah. Dampaknya, impor solar berhasil ditekan secara signifikan.

Menurut Bahlil, kondisi ini membuka ruang bagi pemerintah untuk benar-benar menutup keran impor solar. Ia menegaskan, arah kebijakan ke depan tidak lagi sekadar menekan impor, melainkan memastikan kebutuhan energi nasional dipenuhi dari produksi dalam negeri.

“Dengan kondisi pasokan seperti sekarang, target kita jelas, ke depan impor solar tidak lagi diperlukan,” ujarnya.

Tak berhenti pada solar, pemerintah juga menyiapkan langkah lanjutan di sektor bahan bakar minyak lainnya. Bahlil menyebut, pemerintah tengah merancang skema agar Indonesia tidak lagi bergantung pada impor bensin beroktan menengah hingga tinggi dalam beberapa tahun mendatang, seiring optimalisasi kilang dan penguatan kebijakan bioenergi.

Selain itu, kelebihan pasokan solar nasional juga diarahkan untuk mendukung pengembangan avtur dalam negeri. Pemerintah bersama Pertamina tengah mengkaji pemanfaatan surplus tersebut sebagai bahan baku, sehingga ketergantungan terhadap impor bahan bakar pesawat dapat dikurangi secara bertahap.

“Kelebihan solar ini tidak akan dibiarkan. Kami dorong agar bisa dimanfaatkan, termasuk untuk pengembangan avtur, supaya ke depan impor avtur dan jenis BBM tertentu bisa ditekan bahkan dihentikan,” kata Bahlil.

Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, Kementerian ESDM juga masih menguji penerapan biodiesel dengan tingkat campuran lebih tinggi, seperti B50. Hasil uji tersebut akan menjadi landasan bagi kebijakan selanjutnya, dengan tetap mempertimbangkan kesiapan teknologi mesin, infrastruktur, serta dampak ekonomi dan industri nasional. (Hartatik)

Foto banner: Gambar dibuat oleh DALL-E OpenAI melalui ChatGPT (2025)

Like this article? share it

More Post

Receive the latest news

Subscribe To Our Weekly Newsletter

Get notified about new articles