Indonesia butuh Rp318,93 triliun untuk transisi energi dengan potensi naikkan PDB, ekonomi karbon

Jakarta — Transisi energi Indonesia dari energi yang berasal dari bahan bakar fosil ke energi bersih memerlukan komitmen pembiayaan yang tidak kecil. Para ahli menilai, bahwa untuk memperkuat ketahanan energi diperlukan investasi besar sebagai motor pertumbuhan ekonomi baru, mulai dari peningkatan produk domestik bruto hingga lahirnya ekosistem ekonomi karbon.

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno, Senin, 29 Desember, dalam Diskusi Media bertajuk Refleksi Akhir Tahun 2025; Solusi Paradoks Energi Mewujudkan Kedaulatan, Menyelamatkan Lingkungan, mengatakan bahwa transisi menuju energi baru terbarukan membutuhkan suntikan dana sekitar US$19 miliar atau setara Rp318,93 triliun setiap tahun untuk satu dekade ke depan.

Menurut Eddy, nilai investasi yang besar tersebut berpotensi menciptakan sekitar 1,7 juta lapangan kerja baru sekaligus mendorong peningkatan PDB nasional. Lebih jauh, investasi energi bersih juga membuka ruang bagi pengembangan ekonomi karbon yang kini telah memiliki payung hukum melalui Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025.

“Investasi ini bukan hanya soal listrik bersih, tetapi juga mendorong terciptanya ekonomi baru, termasuk ekonomi karbon, yang bisa kita kembangkan secara cepat,” katanya.

Eddy mengatakan bahwa rencana PLN menambah kapasitas pembangkit listrik baru sebesar 70 gigawatt, dengan sekitar 52 gigawatt di antaranya berasal dari energi terbarukan adalah “peluang peluang besar untuk mengembangkan energi terbarukan, menciptakan green jobs, serta membangun basis manufaktur nasional yang berdampak luas bagi perekonomian”.

Dukungan pendanaan telah mendapat dukungan dari Danantara Investment Management (DIM) yang telah menandatangani head of agreement dengan PT PLN (Persero) untuk mempercepat pengembangan proyek-proyek energi terbarukan di Indonesia. Kerja sama ini membuka peluang pembiayaan bagi proyek pembangkit hijau yang dikembangkan melalui anak usaha PLN, yakni PLN Nusantara Renewables dan PLN Indonesia Power Renewables.

Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menilai kolaborasi ini strategis dalam menjawab tantangan perubahan iklim sekaligus memperkuat swasembada energi nasional. Ia menegaskan bahwa investasi di sektor energi terbarukan tidak hanya mengejar keuntungan finansial, tetapi juga keberlanjutan jangka panjang.

“Penandatanganan HoA ini menjadi tonggak awal untuk menjajaki kebutuhan investasi strategis yang besar, mendorong pengembangan EBT yang andal, serta memperkuat posisi Indonesia dalam transformasi hijau dan swasembada energi,” ujar Pandu.

Menurut Pandu, sektor energi terbarukan memiliki efek berganda yang signifikan, mulai dari perlindungan lingkungan, peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, penguatan ketahanan energi, hingga penciptaan lapangan kerja hijau. Dengan kombinasi kebijakan, peta jalan yang jelas, dan dukungan pembiayaan, transisi energi dinilai bukan semata beban fiskal, melainkan peluang besar untuk menggerakkan ekonomi rendah karbon Indonesia di masa depan. (Hartatik)

Foto banner: Gambar dibuat oleh DALL-E OpenAI melalui ChatGPT (2024)

Like this article? share it

More Post

Receive the latest news

Subscribe To Our Weekly Newsletter

Get notified about new articles