
Jakarta – Luas deforestasi di Indonesia mencapai 433.751 hektar pada tahun 2025, menandai kenaikan tajam sebesar 66% dari 261.575 hektar yang tercatat pada tahun sebelumnya, menurut laporan State of Deforestation (STADI) 2025.
Laporan tersebut menggambarkan lonjakan tersebut sebagai “peringatan keras” bagi pemerintahan baru di bawah Presiden Prabowo Subianto, dengan para analis menyoroti kebijakan pemerintah dan program alokasi lahan berskala besar sebagai faktor pendorong utama. Sekitar 18% dari total kehilangan hutan—setara dengan 78.213 hektar—terjadi di dalam kawasan seluas 20,6 juta hektar yang dialokasikan untuk program cadangan pangan, energi, dan air.
Direktur Auriga Nusantara, Timer Manurung, pada Selasa, 31 Maret, mengatakan bahwa temuan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah memainkan peran sentral dalam mempercepat laju kehilangan hutan. “Kami membaca bahwa kebijakan pemerintah adalah driver utama dari deforestasi kita,” katanya, sambil mencatat bahwa sekitar 58% deforestasi pada tahun 2025 terjadi secara legal di dalam kawasan konsesi atau kawasan pengembangan yang telah ditetapkan.
Secara regional, Kalimantan tetap menjadi penyumbang terbesar deforestasi, melanjutkan tren yang telah diamati sejak 2013. Papua mencatat peningkatan kehilangan hutan terbesar dalam angka absolut, sementara Jawa mengalami lonjakan persentase tertinggi sebesar 440%. Provinsi-provinsi di Sumatra Utara, termasuk Sumatra Barat, Aceh, dan Sumatra Utara, mengalami peningkatan drastis pascabencana ekologis baru-baru ini, dengan kehilangan hutan meningkat lebih dari 1.000% di beberapa wilayah.
Laporan tersebut juga menyoroti tekanan yang terus berlanjut akibat perluasan sektor komoditas, terutama pertambangan nikel di Sulawesi dan Maluku, serta perkebunan kelapa sawit dan hutan industri di Kalimantan dan Papua. Sekitar 71% deforestasi terjadi di kawasan hutan yang dikelola pemerintah, sedangkan 29% sisanya terjadi di zona penggunaan lahan lainnya.

Selain implikasi iklim, laporan tersebut juga memperingatkan adanya dampak serius terhadap keanekaragaman hayati. Deforestasi pada tahun 2025 telah merusak 156.463 hektar habitat spesies yang terancam punah. Harimau Sumatra kehilangan 78.049 hektar habitatnya, disusul oleh orangutan Kalimantan dengan 66.890 hektar. Kerugian yang lebih kecil namun signifikan juga tercatat pada gajah Sumatra, badak Sumatra, dan orangutan Tapanuli yang terancam punah, yang kehilangan 505 hektar dari wilayahnya yang sudah terbatas.
Para peneliti menggunakan kombinasi citra satelit, model pembelajaran mendalam, dan verifikasi lapangan di 16 provinsi untuk menyusun analisis tersebut, dengan tingkat akurasi yang diperkirakan mencapai 89%.
Temuan tersebut semakin memperkuat kekhawatiran bahwa agenda pembangunan Indonesia—terutama dalam kerangka program-program strategis nasional—mungkin semakin bertentangan dengan komitmen perlindungan hutan, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan negara ini untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan kelestarian lingkungan. (nsh)
Foto banner: Deforestasi di Sumatra Utara. Sumber: Laporan State of Deforestation (STADI) 2025/Auriga Nusantara


