
Jakarta — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai keberhasilan agenda energi surya nasional sangat ditentukan oleh kekuatan rantai pasok dalam negeri, mulai dari teknologi, industri manufaktur, hingga kesiapan sistem ketenagalistrikan. Target ambisius pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) nasional hingga 17,1 gigawatt menuntut lebih dari sekadar percepatan pembangunan proyek.
Penekanan tersebut mengemuka dalam rangkaian diskusi Energy Week 2025, pertengahan Desember lalu, yang membahas masa depan energi terbarukan Indonesia. Peneliti BRIN menilai, tantangan utama PLTS selama ini—terutama terkait sifat intermiten atau tidak stabilnya pasokan—kini semakin dapat diatasi berkat kemajuan teknologi. Perkembangan inverter generasi baru dan sistem penyimpanan energi berbasis baterai atau battery energy storage system (BESS) dinilai mampu meningkatkan fleksibilitas dan keandalan pembangkit surya dalam sistem kelistrikan nasional.
“Integrasi PLTS dengan BESS serta penyebaran lokasi pembangkit surya secara geografis dapat mengurangi risiko gangguan pasokan dan memperkuat stabilitas jaringan,” ujar perwakilan BRIN dalam forum tersebut. Menurutnya, pendekatan ini membuat PLTS tidak lagi dipandang sebagai sumber energi pelengkap, melainkan tulang punggung transisi energi.
BRIN juga menyoroti pentingnya peningkatan permintaan listrik untuk menyeimbangkan lonjakan pasokan energi terbarukan. Elektrifikasi sektor transportasi dan industri dipandang sebagai kunci agar produksi listrik dari PLTS dapat terserap optimal. “Tanpa pertumbuhan permintaan, tambahan pasokan energi bersih justru bisa menimbulkan tantangan baru dalam pengelolaan sistem,” katanya.
Dalam konteks ekonomi, percepatan pengembangan PLTS dinilai memiliki nilai strategis yang jauh melampaui target bauran energi. Energy Week 2025 mencatat bahwa ketersediaan energi hijau kini menjadi salah satu prasyarat utama bagi industri global dalam menentukan lokasi investasi. Negara yang mampu menyediakan listrik bersih, andal, dan kompetitif dinilai lebih menarik bagi investor manufaktur berorientasi ekspor.
“Energi hijau bukan lagi sekadar isu lingkungan, tetapi faktor daya saing industri,” ujar peneliti BRIN lainnya. Ia menegaskan, target PLTS 17,1 GW harus dibarengi dengan penguatan industri pendukung di dalam negeri agar manfaat ekonominya tidak bocor ke luar.
Penguatan rantai pasok lokal dinilai menjadi agenda krusial. Pengembangan PLTS skala besar membuka peluang bagi tumbuhnya industri manufaktur modul surya, inverter, baterai, hingga semikonduktor. Jika dikelola dengan kebijakan yang tepat, Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain penting dalam rantai nilai energi surya global.
BRIN menilai, sinergi antara riset, kebijakan industri, dan proyek energi menjadi prasyarat agar target PLTS nasional tercapai secara berkelanjutan. “Transisi energi harus dibangun di atas fondasi industri nasional yang kuat. Tanpa itu, target kapasitas bisa tercapai, tetapi manfaat ekonominya tidak maksimal bagi Indonesia,” pungkasnya. (Hartatik)
Foto banner: Gambar dibuat oleh DALL-E OpenAI melalui ChatGPT (2024)


