IPBES ingatkan dunia usaha: “Berubah atau berisiko punah”

Jakarta – Badan otoritas ilmiah terkemuka dunia dalam bidang keanekaragaman hayati menyampaikan pesan tegasnya kepada para pemimpin korporasi dan investor: ubah model bisnis atau hadapi risiko penurunan ekonomi yang dipicu oleh kehilangan keanekaragaman hayati yang semakin pesat.

The Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) atau Platform Antarpemerintah Ilmu Pengetahuan dan Kebijakan tentang Keanekaragaman Hayati dan Layanan Ekosistem, yang sering disebut sebagai “IPCC untuk alam,” merilis Laporan Business and Biodiversity Assessment di Manchester, Inggris, pada Senin, 9 Februari, memperingatkan bahwa kehilangan keanekaragaman hayati yang disebabkan oleh aktivitas ekonomi menimbulkan “risiko sistemik yang kritis dan meluas” bagi setiap bisnis, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan manusia.

Laporan ini, yang didasarkan pada penelitian selama tiga tahun dan mewakili kesepakatan bersama lebih dari 150 pemerintah anggota, ilmuwan, Masyarakat Adat, dan komunitas lokal, disusun untuk mendukung Target 15 Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming–Montreal mengenai pengungkapan informasi dan tindakan korporasi untuk alam.

Badan internasional mengenai keadaan keanekaragaman hayati global

Didirikan pada tahun 2012, IPBES adalah badan antar pemerintah yang menilai kondisi keanekaragaman hayati global, ekosistem, dan manfaat yang diberikan alam kepada manusia. Penilaiannya menggabungkan ilmu pengetahuan terbaik yang tersedia bersama dengan pengetahuan asli dan lokal untuk mendukung pembentukan kebijakan di seluruh dunia.

Sama halnya Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memberikan penilaian otoritatif tentang ilmu iklim, IPBES mengevaluasi faktor-faktor pendorong dan dampak kehilangan keanekaragaman hayati, memberikan dasar ilmiah bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mengambil tindakan.

Penilaian terbaru ini menandai tinjauan global komprehensif pertama tentang bagaimana praktik bisnis berinteraksi dengan keanekaragaman hayati — serta bagaimana sistem ekonomi baik bergantung pada alam maupun merusaknya.

Sistem yang berisiko

Penilaian IPBES menyimpulkan bahwa kondisi bisnis saat ini tidak sesuai dengan masa depan yang berkelanjutan. Aliran dana terus mengalir secara besar-besaran ke industri-industri yang mendorong degradasi lingkungan.

Menurut laporan tersebut, USD 2,4 triliun dihabiskan setiap tahun untuk kegiatan bisnis yang mendorong kerusakan alam melalui subsidi. Aliran keuangan publik dan swasta global yang memiliki dampak negatif langsung terhadap alam mencapai perkiraan USD 7,3 triliun pada tahun 2023, dengan keuangan swasta menyumbang USD 4,9 triliun.

Sementara itu, hanya USD 135 miliar hingga USD 156 miliar per tahun yang dialokasikan untuk konservasi dan pemulihan keanekaragaman hayati secara global — hanya sebagian kecil dari yang dibutuhkan.

Penilaian tersebut juga menyoroti bahwa meskipun modal yang dihasilkan manusia telah meningkat hampir dua kali lipat per kapita selama dua abad terakhir, cadangan modal alam telah berkurang hampir 40 persen. “Dana mengalir ke industri yang mendorong siklus destruktif, mengancam tujuan bisnis,” kata laporan tersebut.

Kurang dari 1 persen perusahaan saat ini melaporkan dampak biodiversitas mereka, meskipun adopsi kerangka kerja pengungkapan seperti Taskforce on Nature-related Financial Disclosures (TNFD) semakin meningkat.

Wilayah adat yang terancam

Penilaian ini menyoroti peran masyarakat adat dan komunitas lokal dalam melindungi keanekaragaman hayati. Enam puluh persen wilayah masyarakat adat di seluruh dunia terancam oleh pengembangan industri, dan 25% wilayah masyarakat adat menghadapi tekanan tinggi akibat eksploitasi sumber daya.

Pada saat yang sama, IPBES menekankan bahwa sistem pengetahuan masyarakat adat mengandung wawasan kritis untuk pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan — pengetahuan yang dapat dipelajari oleh perusahaan.

Sebuah laporan terpisah dari kelompok riset Zero Carbon Analytics, yang dirilis bersamaan dengan laporan tersebut, mengidentifikasi sektor dan perusahaan yang paling rentan terhadap kehilangan keanekaragaman hayati.

Sektor pertambangan dan pembangkit listrik berisiko kehilangan hingga 25 persen keuntungan dalam lima tahun ke depan akibat kerusakan lingkungan, menurut laporan tersebut. Produsen mobil listrik Tesla menanggung biaya tambahan sebesar USD 5,7 miliar dan mengalami penurunan harga saham sebesar 3,1 persen setelah protes dan pembatasan regulasi terkait penggunaan air yang memengaruhi pabriknya di Jerman. Toyota mengajukan gugatan ganti rugi sebesar USD 387 juta pada tahun 2022 akibat banjir di Afrika Selatan.

Industri pariwisata Florida mengalami kerugian penjualan sebesar USD 317 juta yang terkait dengan blooming alga merah. Perusahaan-perusahaan global besar, termasuk Unilever, Tyson Foods, Roche, Procter & Gamble, Anglo American, dan Holcim Group, diidentifikasi sebagai sangat rentan terhadap risiko yang terkait dengan alam.

Tantangan dan solusi

Laporan IPBES mengakui bahwa perusahaan menghadapi tantangan dalam mengukur dan mengelola dampak yang berkaitan dengan alam, dan tidak ada metode tunggal yang cocok untuk semua sektor. Namun, laporan tersebut menekankan bahwa tindakan tidak boleh ditunda.

Para pemimpin bisnis secara umum menyambut baik penilaian tersebut. Eva Zabey, CEO Business for Nature, menggambarkannya sebagai “penilaian ilmiah yang realistis,” sementara para investor menekankan pentingnya pemahaman yang lebih jelas tentang risiko terkait alam untuk mengarahkan alokasi modal.

Mantan CEO Unilever Paul Polman mengatakan bahwa ketidakhadiran alam dalam neraca keuangan korporasi mewakili “salah satu risiko ekonomi utama pada masa kini,” dengan argumen bahwa pasar gagal ketika hutan lebih berharga jika ditebang daripada jika tetap berdiri.

IPBES memperingatkan bahwa kehilangan keanekaragaman hayati tidak lagi merupakan masalah lingkungan yang periferal, melainkan risiko keuangan sistemik yang dapat mengganggu rantai pasokan, merusak pertumbuhan ekonomi, dan mengikis kesejahteraan manusia.

“Bukti-buktinya jelas,” kata laporan tersebut: setiap perusahaan, termasuk lembaga keuangan, harus bertindak segera dan menerbitkan strategi yang kredibel untuk menghindari greenwashing dan berkontribusi pada tujuan global dalam hal keanekaragaman hayati dan perubahan iklim. (nsh)

Foto banner: Gambar dibuat oleh DALL-E OpenAI melalui ChatGPT (2024)

Like this article? share it

More Post

Receive the latest news

Subscribe To Our Weekly Newsletter

Get notified about new articles