
Jakarta – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) memperluas portofolio energi rendah karbon dengan menggarap potensi compressed biomethane gas (CBG) di Sumatera Utara. Langkah ini menandai keseriusan Subholding Gas Pertamina tersebut dalam mendorong pemanfaatan gas berbasis energi terbarukan untuk sektor industri dan transportasi, terutama di wilayah yang belum terjangkau jaringan pipa gas.
Inisiatif ini ditandai dengan penandatanganan Heads of Agreement (HoA) antara PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas), anak usaha PGN, dan PT Renikola Primer Energi, Selasa, 23 Desember. Kerja sama tersebut mencakup penyediaan dan pengembangan pasokan CBG dengan titik serah di Sumatera Utara, yang ke depan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan energi sektor produktif.
Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, Mirza Mahendra, mengatakan kerja sama ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang PGN dalam memperkuat pasokan gas, termasuk dari sumber energi terbarukan. Menurutnya, CBG menjadi salah satu solusi untuk menjawab tantangan transisi energi sekaligus menjaga keandalan pasokan bagi pelanggan industri dan transportasi.
“Penandatanganan HoA hari ini merupakan salah satu wujud nyata dan komitmen Subholding Gas terkait upaya pemanfaatan pasokan gas yang berasal dari renewable energy seperti CBG,” ujar Mirza.
CBG sendiri dihasilkan dari proses pemurnian biogas yang bersumber dari limbah organik, seperti limbah pertanian, peternakan, dan perkebunan. Gas metana yang dihasilkan dimurnikan hingga setara dengan kualitas gas bumi, kemudian dikompresi agar mudah disimpan dan didistribusikan. Dengan karakteristik yang mirip Compressed Natural Gas (CNG), CBG dapat langsung dimanfaatkan sebagai bahan bakar industri, transportasi, hingga kebutuhan energi lainnya tanpa memerlukan modifikasi besar pada peralatan pengguna.
Melalui PGN Gagas, PGN menargetkan pengembangan layanan energi beyond pipeline, yakni penyaluran energi tanpa bergantung pada jaringan pipa. Skema ini dinilai relevan untuk wilayah seperti Sumatera Utara yang memiliki potensi limbah organik besar, namun belum seluruhnya terhubung dengan infrastruktur gas nasional.
Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, menilai CBG bukan hanya solusi energi bersih, tetapi juga peluang bisnis baru yang sejalan dengan konsep ekonomi sirkular. Ia menekankan bahwa pemanfaatan limbah organik sebagai sumber energi dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat lokal.
“Selain ramah lingkungan, aman, dan efisien, CBG menjadi peluang sumber pasokan baru bagi PGN Gagas untuk mendukung ekonomi sirkular,” kata Santiaji.
“Dukungan ekonomi sirkular dapat dirasakan melalui pemanfaatan limbah organik menjadi CBG yang memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani dan industri perkebunan, serta membuka lapangan kerja ramah lingkungan,” tambahnya.
Ke depan, kerja sama antara PGN Gagas dan Renikola akan difokuskan pada penyusunan studi kelayakan, pembangunan infrastruktur pendukung, serta pengembangan ekosistem distribusi CBG yang efisien dan berkelanjutan. PGN berharap proyek ini dapat segera direalisasikan agar Sumatera Utara menjadi salah satu wilayah percontohan pemanfaatan CBG di Indonesia.
Selain mendukung target transisi energi nasional, pengembangan CBG diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor energi fosil dan menekan emisi gas rumah kaca, khususnya dari sektor industri dan transportasi yang selama ini menjadi kontributor emisi cukup besar. (Hartatik)
Foto banner: Gambar dibuat oleh DALL-E OpenAI melalui ChatGPT (2024)


