Di tengah transisi EBT, sektor batu bara Indonesia tetap kuat, kata direktur IMA

Jakarta – Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association (IMA) Hendra Sinadia menegaskan kembali bahwa batu bara masih diminati dan permintaannya terus meningkat. Hal ini sejalan dengan pernyataan pejabat Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) akhir tahun lalu, yang mengatakan bahwa batu bara “tak tergantikan”, dan bahwa industri batu bara akan mengalami ‘sunset’ seiring meningkatnya pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) adalah “asumsi keliru”.

“Dalam lima tahun terakhir, permintaan batu bara terus menguat, terutama melalui peningkatan ekspor,” ungkap Hendra dalam Podcast Money Honey, Senin, 6 Mei.

Optimisme Hendra terhadap bisnis batu bara didasarkan pada kekayaan sumber daya batu bara Indonesia yang masih melimpah, bahkan mampu bertahan hingga 500 tahun ke depan. Menurutnya, meskipun tidak dapat diprediksi kapan batu bara akan digantikan oleh energi hijau, tetapi keberlanjutan bisnis batu bara masih menjanjikan.

Namun demikian, Hendra mengakui bahwa tantangan terbesar bagi industri batu bara adalah emisi karbon. Meskipun emisi dari penambangan batu bara tidak begitu besar, namun pencemaran terjadi terutama dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakar.

“Kunci dalam transisi energi adalah bagaimana mengurangi ketergantungan pada batu bara dan mengurangi emisi karbon,” tegas Hendra.

Dia menyoroti pentingnya penggunaan energi terbarukan dalam kegiatan tambang untuk mengurangi emisi, sambil menunjukkan komitmen perusahaan-perusahaan batu bara dalam mengurangi emisi secara bertahap.

“Sudah ada langkah konkrit yang diambil, seperti penggunaan campuran biodiesel untuk mengurangi emisi kendaraan pengangkut batu bara,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hendra menekankan pentingnya teknologi penangkapan karbon (carbon capture) dalam memastikan keberlanjutan penggunaan batu bara. Dengan teknologi ini, emisi karbon yang dihasilkan dari pembangkit dapat ditangkap dan disimpan kembali, sehingga emisi yang keluar dapat ditekan.

Dalam pandangan Hendra, meskipun transisi energi menghadirkan tantangan bagi industri batu bara, namun dengan komitmen untuk menggunakan teknologi terbaru dan terus mengurangi emisi, batu bara masih memiliki potensi untuk berkontribusi dalam pasokan energi jangka panjang Indonesia. (Hartatik)

Like this article? share it

More Post

Receive the latest news

Subscribe To Our Weekly Newsletter

Get notified about new articles